Apa sesungguhnya tujuan
pendidikan itu? Inilah pertanyaan yang harus dijawab filsafat pendidikan. Agar
jawabannya memuaskan, sang filsuf harus mengkaji isu-isu mendasar yang bersifat
metafisik, epistemologis, moral, dan politik. Filsafat pendidikan tidak akan
tuntas tanpa menjawab pertanyaan turunan seperti berikut ini : Apa hakikat
manusia? Bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan? Apa manusia? Bagaimana
seseorang memperoleh pengetahuan? Apa standar moral yang harus dipegang
manusia? Bagaimana semestinya masyarakat diorganisir? Tidaklah cukup sekedar
mengkalimatkan tujuan pendidikan. Tujuan itu seyogyanya dirinci sedemikian rupa
sehingga metode untuk menggapai tujuan itu jelas. Andaikan tujuan pendidikan
itu untuk membuat siswa cerdas, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana
metode mengajarnya agar mereka menjadi cerdas? Dan mata pelajaran apa saja yang
harus diajarkan agar mereka verdas? Berfilsafat pendidikan adalah suatu upaya
yang sangat kompleks, namun sangat penting. Segala keputusan dalam bidang
pendidikan akan sangat tergantung padanya. Jadi, filsafat pendidikan dapat
didefinisikan sebagai teori yang mendasari alam pikiran ihwal pendidikan atau
suatu kegiatan pendidikan.
Dalam
masyarakat apapun dari zaman dahulu sampai sekarang ini, pendidikan itu
dipersepsi sebagai sesuatu yang mulia. Kurikulum pendidikan diniati agar
peserta didik berperilaku mulia. Dengan demikian, kurikulum adalah cerminan
filsafat yang dipercayai oleh masyarakatnya. Jadi bagaimana kaitan filsafat
dengan kurikulum? Kurikulum menggarap aspek tertentu dari filsafat dan lebih
melihat manusia dalam bingkai mikrokosmos, sementara filsafat merupakan teori
umum ihwal pendidikan dan tugas tim pengembang kurikulum.
