Hal
yang sama dapat dikatakan untuk logika dalam bahasa. Penggunaan
istilah-istilah logika kunci seperti ‘tidak’, ‘dan’, ‘atau’, ‘berimplikasi’,
‘jika dan hanya
jika’, ‘memuat’, ‘terdapat’, ‘untuk semua’, ‘adalah’, dan seterusnya, secara ketat mengikuti aturan-aturan
linguistik. (Kita mengabaikan inkonsistensi variasi sehari-hari seperti ‘tidak-tidak = tidak, yang ditolak oleh
matematika dan logika). Aturan-aturan ini tetap sebagaimana kebenaran pernyataan dasar seperti ‘Jika A, maka A atau B’, dan
aturan-aturan inferensi seperti ‘A’ dan ‘A berimplikasi B’ bersama-sama berarti ‘B’. Aturan-aturan ini mencerminkan penggunaan istilah tersebut, dan
maknanya (menurut
Wittgenstein). Aturan dan kesepakatan logika yang mendukung lebih dari sekadar ‘kebenaran’ dari
logika. Sebagaimana telah kita lihat, mereka juga mendukung hubungan logis,
termasuk implikasi dan kontradiksi. Jadi penalaran, dan memang, seluruh dasar
argumen rasional,
berpijak pada aturan-aturan bersama bahasa.
Bentuk-bentuk
yang lebih abstrak dan kuat dari logika yang digunakan dalam matematika, juga berada pada logika yang tertanam dalam penggunaan bahasa
alamiah. Namun, aturan-aturan dan makna logika matematika menyatakan
versi terformalkan dan penghalusan logika ini. Mereka memperbaiki sebuah eratan himpunan permainan bahasa yang tumpang tindih dengan logika bahasa
alami.
