Rabu, 28 September 2016

Pendidikan Moral, Pengajaran Agama, dan Klarifikasi Nilai



Dalam masyarakat kita dewasa ini ada keinginan yang sangat kuat untuk menjadikan pendidikan sebagai tumpuan harapan bagi masa depan bangsa dan negara. Para pemuka masyarakat biasanya mempunyai jangkauan yang agak jauh ke depan. Mereka sering mengungkapkan pandangan bahwa pendidikan harus mampu menngkatkan sumber daya manusia, mencetak pemimpin-pemimpin cerdas untuk masa depan, mampu memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk bekerja dan berperan dalam pembangunan negara, membina akhlak dan moral masyarakatnya, dan mempersiapkan mereka menjadi generasi penerus atau pembaharu perubahan sosial.

Dari Pembinaan Watak ke Globalisasi Pendidikan



          Sejarah pendidikan merupakan perkembangan yang amat panjang, namun kontras antara tekanan pendidikan di masa lalu dan sekarang tampaknya dapat ditengarai secara jelas, meskipun untuk mengurutkan detail-detailnya masih diperlukan penelitian-penelitian yang lebih cermat.

Pemerintah sebagai Pendidik Masyarakat?


               Beberapa tahun yang lalu, di harian KOMPAS pernah muncul sebuah karangan dari Franz Magnis Suseno yang cukup menyengat, karena mengemukakan keluhan seorang pejabat sekolah yang merasa sangat dibebani oleh Dikti dengan formulir-formulir data yang harus diisinya. Sebetulnya keluhan semacam ini bukan sesuatu yang baru, karena dalam pengelolaan pendidikan kita, sudah lama ada kesan bahwa pemerintah cenderung bersikap birokratis daripada visioner atau inovatif, cenderung melakukan instruksi dan pengontrolan rutin dengan penggandaan formulir-formulir resmi untuk diisi daripada menawarkan visi pendidikan yang baru dalam tataran akademis. Berkenaan dengan keluhan terhadap peraturan-peraturan yang dibebankan pemerintah kepada sekolah-sekolah, pernah muncul adagium yang mengatakan “ganti menteri ganti peraturan”.

Persoalan – persoalan dalam Pendidikan


                Eko Haryanto (15 tahun), siswa kelas VI SD Kepunduhan 01, Kecamatan Kramat, Kabupaten   
       Tegal, Jawa Tengah, berusaha bunuh diri karena orangtuanya tidak mampu membayar uang sekolah. 
       Untunglah dia sempat tertolong dan kemudian dirawat di rumah sakit. Karena kasus ini Menteri 
       Pendidikan nasional memerintahkan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Indra Djati Sidi untuk 
       menjenguk yang bersangkutan dan mengecek duduk persoalannya. Kepada orangtuanya, Indra    
       menyerahkan bantuan pemerintah sebesar 10 juta rupiah untuk biaya perawatan dan beasiswa untuk  
       yang bersangkutan sampai tamat SMP. Berita semacam ini tentu saja mnegejutkan kita dan  
       memperlihatkan salah satu potret dari tragedy pendidikan di Indonesia.

Filsafat Pendidikan, Siapa Masih Peduli?

             Dimensi filsafat dalam pendidikan mempersoalkan pernyataan dasar mengenai apakah pendidikan itu? Apa tujuannya? Dengan demikian, dimensi filsafat mencoba menjawab persoalan pendidikan pada dirinya sendiri atau pendidikan qua pendidikan? Dewasa ini persoalan mendasar tentang pendidikan qua pendidikan tampaknya kurang diminati, karena dianggap tidak menyumbangkan pemikiran yang bisa dipakai untuk pemecahan langsung terhadap persoalan – persoalan yang dihadapi masyarakat menyangkut praktik pendidikan. Atau, barangkali masyarakat sudah sedemikian terobsesi oleh begitu banyaknya persoalan pragmatis dan terjerat dalam labirin persoalan praktis, sehingga tidak mampu lagi keluar untuk mencari ujung benang kusut dari seluruh persoalan pendidikan. Kalau demikian, dimensi filsafat sebetulnya justru memperlihatkan urgensinya yang nyata saat ini juga.
 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang