Minggu, 10 Desember 2017

Mampukah Sosok Introvert Mendidik Siswa SD?


         Setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Kepribadian tersebut secara umum digolongkan ke dalam dua tipe, yakni ekstrovert dan introvert. Menurut Suryabrata, seseorang dengan kepribadian ekstrovert lebih berorientasi ke dunia luar artinya cenderung bersikap positif terhadap lingkungan sekitarnya. Sosok ekstrovert biasanya mudah bergaul, menyukai hal-hal yang baru, ramah, dan terbuka. 
Berbeda dengan ekstrovert, sosok introvert sering kali dianggap sebagai orang yang pemalu padahal orang yang pemalu belum tentu dapat dikatakan berkepribadian introvert. Menurut Eysenck, seseorang dengan kepribadian introvert memiliki sifat tenang, suka merawat diri, bersikap hati-hati, pemikir, suka menyendiri, dan berorientasi pada tugas.
Dilihat dari berbagai ciri-ciri tersebut, saya cenderung berkepribadian introvert. Hal lainnya yang menunjukkan kecenderungan tersebut adalah ketika bertemu dengan orang baru, saya tidak akan memulai percakapan terlebih dahulu dengannya apabila orang tersebut tidak memulainya. Jadi, saya tidak akan berbicara jika tidak ditanya.
Menyadari bahwa saya merupakan sosok introvert, saya mulai mengikuti kegiatan organisasi sejak duduk di bangku SMA. Hal ini saya lakukan karena mendapatkan suatu pengalaman dari kakak kelas saya bahwa ia merupakan sosok introvert tetapi ia mampu berbicara dengan baik di depan umum setelah ia berorganisasi. Meskipun demikian, sisi introvertnya tetap ada dalam dirinya tetapi kadarnya berkurang.  Setelah mencoba ikut berorganisasi, saya pun merasakan hal yang sama bahwa saya sedikit lebih berani berbicara di depan orang banyak.

Senin, 09 Januari 2017

Manusia dan Pendidikan


Filsafat menurut Immanuel Kant adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang di dalamnya tercakup empat persoalan yaitu (1) Apakah yang dapat kita ketahui?; (2) Apakah yang seharusnya kita kerjakan?; (3) Sampai dimanakah harapan kita?; dan (4) Apakah yang dinamakan manusia?
            Keempat pertanyaan di atas merupakan  pemikiran kritisisme. Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. Perkembangan ilmu Immanuel Kant mencoba untuk menjebatani pandangan Rasionalisme dan Empirisisme, yaitu aliran filsafat Kritisisme adalah sebuah teori pengetahuan yang berusaha untuk mempersatukan kedua macam unsur dari filsafat Rasionalisme dan disini kekuatan kritis filsafat sangatlah penting, karena ia bisa menghindari kemungkinan ilmu pengetahuan menjadi sebuah dogma. Filsafat ini memulai pelajarannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda dengan corak filsafat modern sebelumnya yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak. Isi utama dari kritisisme adalah gagasan Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika dan estetika, dimana gagasan ini muncul karena keempat persoalan di atas.

Sabtu, 03 Desember 2016

Kematangan dan Perkembangan Pengalaman Peserta Didik


Perkembangan yang dialami peserta didik membawa mereka ke arah kematangan. Kematangan ini akan tercapai jika sudah menemukan pegangan atau nilai-nilai yang mereka cari, yaitu menjelang berakhirnya masa remaja atau mulainya masa dewasa.
Kematangan fisik atau jasmani terjadi setelah berhentinya pertumbuhan yang terjadi dengan pesat, sehingga anak laki-laki akan kelihatan berjalan tegap karena dada dan bahunya semakin bidang, sedangkan anak perempuan berjalan melenggang karena pinggulnya membesar. Kematangan sosial ditandai oleh sikap sosial yang mantap sebagai anggota masyarakat dan anggota keluarga yang mulai merasakan adanya tanggungjawab baik sebagai pribadi ataupun sebagai anggota masyarakat. Kematangan emosional ditandai oleh stabilnya emosi sehingga ledakan-ledakan yang sering terjadi semakin berkurang dan bahkan berhenti sama sekali.

Kematangan (maturation) adalah urutan perubahan yang dialami individu secara teratur yang ditentukan oleh rancangan genetiknya (Santrock dan Yussen, 1992: 20). Para ahli psikologi perkembangan menekankan unsur kematangan atau pembawaan mengklaim warisan biologis sebagai unsur yang paling mempengaruuhi perkembangan anak. Pengalaman merupakan peristiwa yang dialami oleh individu dalam berinteraksi dengan lingkungan. Disini pengalaman dianggap sebagai unsur lingkungan, yakni sebagai pengalaman-pengalaman environmental yang diperoleh dalam kehidupan.

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Peserta Didik


Ada tiga faktor yang mempengaruhi perkembangan individu, yaitu :
a.       Faktor Hereditas
Faktor ini dipahami sebagai faktor bawaan yang dibawa anak dari orangtuanya.
b.      Faktor Lingkungan
Lingkungan memberikan pengaruh dan bahkan merupakan faktor penentu perkembangan individu.
c.       Faktor Gabungan

Perkembangan individu dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan, serta pengalaman (faktor gabungan).

Aspek yang Mempengaruhi Perkembangan Peserta Didik


Berikut ini akan diuraikan pokok – pokok pertumbuhan dan perkembangan aspek – aspek yang berbeda – beda antara yang satu dengan yang lain :
a.       Pertumbuhan Fisik
1)      Pertumbuhan sebelum lahir
2)      Pertumbuhan setelah lahir
b.      Perkembangan Intelektual
Menurut Piaget, tahap – tahap perkembangan intelektual diantaranya sebagai berikut :
1)      Tahap sensori motor (0 – 2 setengah tahun)
2)      Tahap pra operasional (2 – 7 tahun)
3)      Tahap operasional konkrit (7 – 11 tahun)
4)      Tahap operasional formal (11 – 15 tahun)

Tujuan, Fungsi, dan Manfaat Psikologi Perkembangan


1.      Tujuan Mempelajari Psikologi Perkembangan Peserta Didik
Mempelajari psikologi perkembangan peserta didik memiliki tujuan sebagai berikut :
a.       Untuk mengetahui tingkah laku individu itu sesuai atau tidak dengan tingkat usia/perkembangannya.
b.      Agar dapat memilih, memberikan materi, dan metode yang sesuai dengan kebutuhan anak, terutama dalam kegiatan proses belajar mengajar.
c.       Mempelajari penyimpangan tingkah laku yang dialami seseorang seperti kenakalan, kelainan dalam fungsional inteleknya, dan lain – lain.

Tujuan Pendidikan Dasar


Pendidikan di sekolah dasar dengan ruang lingkupnya mencakup materi ke SD-an yang diselenggarakan sepanjang hayat sebagai pendidikan lanjutan dengan tujuan yang sama seperti uraian pada Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan.
Tujuan pendidikan nasional adalah mengarahkan berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta memiliki tanggung jawab. Sedangkan tujuan pendidikan sekolah dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Dengan demikian, siswa dapat memiliki dan menanamkan sikap budi pekerti terhadap sesama.
 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang