Sabtu, 03 Desember 2016

Kematangan dan Perkembangan Pengalaman Peserta Didik


Perkembangan yang dialami peserta didik membawa mereka ke arah kematangan. Kematangan ini akan tercapai jika sudah menemukan pegangan atau nilai-nilai yang mereka cari, yaitu menjelang berakhirnya masa remaja atau mulainya masa dewasa.
Kematangan fisik atau jasmani terjadi setelah berhentinya pertumbuhan yang terjadi dengan pesat, sehingga anak laki-laki akan kelihatan berjalan tegap karena dada dan bahunya semakin bidang, sedangkan anak perempuan berjalan melenggang karena pinggulnya membesar. Kematangan sosial ditandai oleh sikap sosial yang mantap sebagai anggota masyarakat dan anggota keluarga yang mulai merasakan adanya tanggungjawab baik sebagai pribadi ataupun sebagai anggota masyarakat. Kematangan emosional ditandai oleh stabilnya emosi sehingga ledakan-ledakan yang sering terjadi semakin berkurang dan bahkan berhenti sama sekali.

Kematangan (maturation) adalah urutan perubahan yang dialami individu secara teratur yang ditentukan oleh rancangan genetiknya (Santrock dan Yussen, 1992: 20). Para ahli psikologi perkembangan menekankan unsur kematangan atau pembawaan mengklaim warisan biologis sebagai unsur yang paling mempengaruuhi perkembangan anak. Pengalaman merupakan peristiwa yang dialami oleh individu dalam berinteraksi dengan lingkungan. Disini pengalaman dianggap sebagai unsur lingkungan, yakni sebagai pengalaman-pengalaman environmental yang diperoleh dalam kehidupan.

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Peserta Didik


Ada tiga faktor yang mempengaruhi perkembangan individu, yaitu :
a.       Faktor Hereditas
Faktor ini dipahami sebagai faktor bawaan yang dibawa anak dari orangtuanya.
b.      Faktor Lingkungan
Lingkungan memberikan pengaruh dan bahkan merupakan faktor penentu perkembangan individu.
c.       Faktor Gabungan

Perkembangan individu dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan, serta pengalaman (faktor gabungan).

Aspek yang Mempengaruhi Perkembangan Peserta Didik


Berikut ini akan diuraikan pokok – pokok pertumbuhan dan perkembangan aspek – aspek yang berbeda – beda antara yang satu dengan yang lain :
a.       Pertumbuhan Fisik
1)      Pertumbuhan sebelum lahir
2)      Pertumbuhan setelah lahir
b.      Perkembangan Intelektual
Menurut Piaget, tahap – tahap perkembangan intelektual diantaranya sebagai berikut :
1)      Tahap sensori motor (0 – 2 setengah tahun)
2)      Tahap pra operasional (2 – 7 tahun)
3)      Tahap operasional konkrit (7 – 11 tahun)
4)      Tahap operasional formal (11 – 15 tahun)

Tujuan, Fungsi, dan Manfaat Psikologi Perkembangan


1.      Tujuan Mempelajari Psikologi Perkembangan Peserta Didik
Mempelajari psikologi perkembangan peserta didik memiliki tujuan sebagai berikut :
a.       Untuk mengetahui tingkah laku individu itu sesuai atau tidak dengan tingkat usia/perkembangannya.
b.      Agar dapat memilih, memberikan materi, dan metode yang sesuai dengan kebutuhan anak, terutama dalam kegiatan proses belajar mengajar.
c.       Mempelajari penyimpangan tingkah laku yang dialami seseorang seperti kenakalan, kelainan dalam fungsional inteleknya, dan lain – lain.

Tujuan Pendidikan Dasar


Pendidikan di sekolah dasar dengan ruang lingkupnya mencakup materi ke SD-an yang diselenggarakan sepanjang hayat sebagai pendidikan lanjutan dengan tujuan yang sama seperti uraian pada Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan.
Tujuan pendidikan nasional adalah mengarahkan berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta memiliki tanggung jawab. Sedangkan tujuan pendidikan sekolah dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Dengan demikian, siswa dapat memiliki dan menanamkan sikap budi pekerti terhadap sesama.

Sarana dan Prasarana Sekolah


Ukuran dan jenis sekolah bervariasi tergantung dari sumber daya dan tujuan penyelenggara pendidikan. Sebuah sekolah mungkin sangat sederhana di mana sebuah lokasi tempat bertemu seorang pengajar dan beberapa peserta didik, atau mungkin, sebuah kompleks bangunan besar dengan ratusan ruang dengan puluhan ribu tenaga kependidikan dan peserta didiknya. Berikut ini adalah sarana prasarana yang sering ditemui pada sekolah yang ada di Indonesia berdasarkan kegunaannya, antara lain :

Tujuan Sekolah


Tujuan sekolah adalah hasil penyelenggaraan pendidikan yang akan dicapai. Tujuan sekolah diantaranya sebagai berikut :
a.       Menggambarkan tingkat kualitas yang perlu dicapai dalam jangka menengah (4 tahun).
b.      Mengacu pada visi, misi, tujuan pendidikan nasional serta relevan dengan kebutuhan masyarakat.

c.       Mengacu pada standar kompetensi lulusan yang sudah ditetapkan sekolah dan pemerintah.

Peran Kepala Sekolah


a.        Sebagai pelaksana (executive)
Seorang pemimpin tidak boleh memaksakan kehendak sendiri terhadap kelompoknya. Ia harus berusaha memenuhi kehendak dan kebutuhan kelompoknya, juga program atau rencana yang telah ditetapkan bersama.
b.      Sebagai perencana (planner)
Sebagai kepala sekolah yang baik harus pandai membuat dan menyusun perencanaan sehingga segala sesuatu yang akan diperbuatnya bukan secara sembarangan saja, tetapi segala tindakan diperhitungkan dan bertujuan.

Fungsi Kepala Sekolah


Menurut E. Mulyasa, kepala sekolah mempunyai 7 fungsi utama, yaitu:
a.       Kepala Sekolah Sebagai Edukator (Pendidik)        
Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.

Manfaat Guru


Sebagai seorang pendidik, guru memiliki manfaat diantaranya :
a.       Guru membantu anak-anak mengembangkan dasar membaca, menulis, dan keterampilan verbal.
b.      Guru mengajari anak-anak matematika dasar, ilmu pengetahuan, atau bahasa.
c.       Guru mengajarkan anak-anak untuk mengekspresikan diri, berinteraksi dengan orang lain, dan dengan demikian membantu mereka mengembangkan keterampilan sosial.

d.      Ketika anak-anak berada di sekolah, guru adalah orang tua mereka. Guru memainkan peran kunci dalam pendidikan karakter mereka.

Peran Guru


Di samping ketiga tugas pokok guru tersebut di atas, menurut Muhtar (1992), guru juga berperan sebagai :
a.       Fasilitator perkembangan siswa
Kemampuan dan potensi yang dimiliki siswa tidak mungkin dapat berkembang dengan baik apabila tidak mendapat rangsangan dari lingkungannya. Dalam suasana sekolah, guru diharapkan dengan siswa secara individual telah mempunyai kemampuan dan potensi itu. Dengan kata lain mempunyai peranan sebagai fasilitator dalam mengantarkan siswa ke arah hasil pendidikan yang tinggi mutunya.

Tugas Guru


Dalam pendidikan, guru mempunyai tiga tugas pokok yang dapat dilaksanakan sebagai berikut:
a.       Tugas professional
Tugas  profesional  ialah  tugas  yang  berhubungan dengan profesinya. Tugas profesional ini meliputi tugas mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan.

Problematika Kurikulum 2013


Berbagai wacana berkembang di masyarakat terkait Kurikulum 2013 sangat marak, tentunya berdasarkan pada sudut pandang mereka. Banyak persepsi yang perlu dihargai sebagai bagian dari proses pematangan kurikulum yang sedang disusun.  Kurikulum ini merupakan terobosan baru dari kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Alasan perubahan kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 2013 banyak berbagai alasan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh menemukan pasalnya, hasil studi lembaga survei pendidikan Internasional, TIMSS dan PIRLS 2011 tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan terhadap kemampuan siswa di Indonesia. Selain itu evaluasi kurikulum pendidikan saat ini terlalu membebani siswa. “Dari evaluasi nanti diharapkan bisa ditemukan formulasi sesuai standar kompetensi”, katanya. 

Prinsip Penyusunan RPP Kurikulum 2013


Prinsip-prinsip penyusunan RPP adalah sebagai berikut :
a.       Memperhatikan perbedaan individu peserta didik. RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan lingkungan peserta didik.
b.      Mendorong partisipasi aktif peserta didik proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian dan semangat belajar.

Faktor yang menjadi alasan pengembangan Kurikulum 2013


Faktor yang menjadi alasan pengembangan Kurikulum 2013 diantaranya sebagai berikut :
1.      Tantangan masa depan, diantaranya meliputi arus globalisasi, masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, kovergensi ilmu dan teknologi, dan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.
2.      Kompetensi masa depan, yang diantaranya meliputi kemampuan berkomunikasi, kemampuan berfikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral, kemampuan menjadi kewarganegaraan yang efektif, dan kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda.
3.      Fenomena sosial yang mengemuka, seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam berbagai jenis ujian, dan gejolak sosial (social unrest).

4.      Persepsi publik yang menilai pendidikan selama ini terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, beban siswa yang terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter.

Fungsi Kurikulum


Fungsi kurikulum juga dibagi menjadi 6, yaitu :
a.       Fungsi kurikulum bagi sekolah
1)      Sebagai alat mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.
2)      Sebagai pedoman mengatur segala kegiatan sehari-hari di sekolah tersebut, yang meliputi cara menyelenggarakan setiap jenis program pendidikan dan orang yang bertanggung jawab serta melaksanakan program pendidikan.
b.      Fungsi kurikulum bagi guru
Guru tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana kurikulum sesuai dengan kurikulum yang berlaku, tetapi juga sebagai pengembang kurikulum.

Faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kurikulum


Implementasi kurikulum dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni :
a.       Karakteristik kurikulum: yang mencakup ruang lingkup ide baru suatu kurikulum dan kejelasaanya bagi pengguna di lapangan.
b.      Strategi implementasi: yaitu strategi yang digunakan dalam implementasi, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, loka karya, penyediaan buku kurikulum, dan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong penggunaan kurikulum di lapangan.

c.       Karakteristik pengguna kurikulum: yang meliputi pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap guru terhadap kurikulum, serta kemampuannya untuk merealisasikan kurikulum dalam pembelajaran.

Apa itu Implementasi Kurikulum?


Pengertian secara bahasa sebagaimana dalam Oxford Advance Leraner’s Dictionary yang dikutip oleh Mulyasa, implementasi adalah penerapan sesuatu yang memberikan efek atau dampak. Lebih lanjut disebutkan implementasi adalah proses penerapan ide, konsep, kebijakan atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan, ataupun nilai dan sikap.
Kemudian implementasi kurikulum dapat juga diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis (written curriculum) kedalam bentuk pembelajaran. Implementasi dapat juga diartikan sebagai pelaksanaan dan penerapan. Ada beberapa pendapat yang dikutip dari Binti Maunah diantaranya pendapat Majone dan Wildavky (1979) yang mengemukakan bahwa implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan (dalam Pressma dan Wildavzky, 1984).
Implementasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses penerapan ide dan konsep. Adapun kurikulum dapat diartikan dokumen kurikulum (kurikulum potensial). Dikemukakan juga bahwa implementasi kurikulum merupakan proses interaksi antara fasilitator sebagai pengembang kurikulum dan peserta didik sebagai subjek belajar.           

Maka implementasi kurikulum adalah penerapan, ide, dan konsep kurikulum potensial (dalam bentuk dokumen kurikulum) kedalam kurikulum aktual dalam bentuk proses pembelajaran.

Masalah Pendidikan di Indonesia


Dunia pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari berbagai masalah yang ada, masalah-masalah itu diantaranya berkaitan dengan guru, kurikulum, infastruktur, pemerataan pendidikan, dan biaya pendidikan.
Dalam dunia pendidikan guru menduduki posisi tertinggi dalam hal penyampaian informasi dan pengembangan karakter mengingat guru melakukan interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Disinilah kualitas pendidikan terbentuk dimana kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru ditentukan oleh kualitas guru yang bersangkutan.
Secara umum, kualitas guru dan kompetensi guru di Indonesia masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Dari sisi kualifikasi pendidikan, hingga saat ini dari 2,92 juta guru baru sekitar 51% yang berpendidikan S-1 atau lebih sedangkan sisanya belum berpendidikan S-1. Begitu juga dari persyaratan sertifikasi, hanya 2,06 juta guru atau sekitar 70,5% guru yang memenuhi syarat sertifikasi sedangkan 861.670 guru lainnya belum memenuhi syarat sertifikasi.

APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN?



Membahas tentang filsafat, kita di tuntut untuk mampu berpikir kritis yang ada di luar nalar manusia. Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan kisah inspiratif mengenai jawaban dari pertanyaan dari judul postingan ini.
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini,
“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Atomisme Logis


Logical atomism mulai berkembang pada awal abad ke XX di Inggris sebagai reaksi terhadap aliran idealisme yang menguasai pemikiran saat itu. Tokoh terkenal faham idealisme yang menguasai pemikiran saat itu. Tokoh terkenal faham idealisme adalah F.H. Bradley. Inti aliran idealisme adalah bahwa realitas itu terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, jiwa atau minda (mind) dan bukannya benda material. Ini kebalikan dari paham materialisme bahwa materi itu adalah real dan minda sebagai fenomena penyerta saja. Ini bertentangan dengan metode empirisme yang mengandalkan ide-ide bukannya putusan atau judgments atau keterangan-keterangan sebagaimana dinyatakan dalam proposisi-proposisi, yakni pernyataan-pernyataan tentang dunia ini. Pandangan Bradley ini mempengaruhi Russell dengan formulasi logika atomisme, bahwasanya realitas terwujud dalam ungkapan bahasa yang merupakan proposisi-proposisi, bukan atas ide-ide atau isi pikiran kita. Nama-nama besar dalam aliran ini antara lain G.E.Moore (1873-1958) sebagai perintis, Bertrand Russell (1872-1970) sebagai tokoh utama, dan Ludwig Wittgenstein (1889-1951). Berikut ini adalah beberapa pemikiran inti dari aliran ini.

Cara Penemuan Kebenaran



            Cara untuk menemukan kebenaran berbeda-beda. Dari berbagai cara untuk menemukan kebenaran dapat dilihat cara untuk menemukan kebenaran dapat dilihat cara yang ilmiah dan yang non ilmiah. Cara-cara untuk menemukan kebenaran sebagaimana diuraikan oleh Hartono Kasmadi, dkk. (1990) sebagai berikut.
1.      Penemuan Secara Kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan adalah penemuan yang berlangsung tanpa disengaja. Dalam sejarah manusia, penemuan secara kebetulan itu banyak juga yang berguna walaupun terjadinya tidak dengan cara yang ilmiah, tidak disengaja, dan tanpa rencana. Cara ini tidak dapat diterima dalam metode keilmuan untuk menggali pengetahuan atau ilmu.

Dapatkah Alam Semesta Menciptakan Dirinya Sendiri ?



“Sains mesti menyediakan sebuah mekanisme tentang kejadian alam semesta”
-John Wheeler-

Kita biasanya berpikir tentang kata ‘sebab’ yang biasanya mendahului kata ‘akibat’. Oleh karena itu, kita mencoba menjelaskan alam semesta dengan menarik ke situasi waktu yang lebih awal. Kendati pun kita dapat menjelaskan keadaan alam semesta masa kini adalah hal yang lazim. Jika kita kembali pada keadaan satu milyar tahun lalu, apakah kita akan betul-betul memperoleh sesuatu, selain hanya menggerakkan kembali misteri satu milyar tahun lalu??? Karena kita tentu saja ingin menjelaskan keadaan satu milyar tahun lalu menurut pandangan tertentu yang lebih awal lagi. Apakah mata rantai sebab dan efek pernah berakhir? Para ilmuwan boleh jadi sangat pandai menjlaskan ini dan itu. Mereka bahkan mungkin dapat menjelaskan segala sesuatu di dalam alam semesta fisik. Tetapi, pada tahapan tertentu dalam mata rantai penjelasan itu mereka akan menemukan kebuntuan, sebuah titik yang ilmu sains saja tidak dapat menerobos. Titik ini adalah penciptaan alam semesta secara keseluruhan, asal-usul tertinggi dunia fisik.

Definisi Kebenaran


            Apakah kebenaran itu? Inilah pertanyaan lebih lanjut yang harus dihadapi di dalam filsafat ilmu. Hal kebanaran sesungguhnya memang merupakan tema sentral di dalam filsafat ilmu. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran. Rasanya lebih tepat kalau pertanyaan kemudia dirumuskan menjadi apakah pengetahuan yang benar itu?
            Problematik mengenai kebenaran, seperti halnya problematik tentang pengetahuan, merupakan masalah-masalah yang mengacu pada tumbuh dan berkembangnya dalam filsafat ilmu. Apabila orang memberikan prioritas kepada peranan pengetahuan, dan apabila orang percaya bahwa dengan pengetahuan itu manusia akan menemukan kebenaran dan kepastian, maka mau tidak mau orang harus berani menghadapi pertanyaan tersebut, sebagai hal yang mendasar dan hal yang mendasari sikap dan wawasannya.
            Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia  yang ditulis oleh Purwadarminta ditemukan arti kebenaran, yakni 1. Keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok dengan hal atau keadaan yang sesungguhnya); misal, kebenaran berita ini masih saya sangsikan; kita harus berani membela kebenaran dan keadilan. 2. Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul-betul demikian halnya dan sebagainya); misal, kebenaran-kebenaran yang diajarkan oleh agama. 3. Kejujuran; kelurusan hati; misal, tidak ada seorang pun sangsi akan kebaikan dan kebenaran hatimu. 4. Selalu izin; perkenanan; misal, dengan kebenaran yang dipertuan. 5. Jalan kebetulan; misal, penjahat itu dapat dibekuk dengan secara kebenaran saja.

            Semakin menarik saja ketika kita membahas kebenaran, segala sesuatunya tampak sangat memancing kita untuk berpikir dan berpikir kembali. Pada postingan selanjutnya saya akan coba membahas kembali tentang kebenaran yang tentunya akan menambah wawasan kita semua.

Filsafat Bahasa Biasa


Seperti disebut terdahulu bahwa filsafat analitik muncu sebagai reaksi terhadap tradisi idealisme terutama dari kalanga teologi yang mengagungkan metafisika. Para pengikut positivisme logis ingin membersihkan diri dari metafisika. Mereka ingin memiliki bahasa yang dapat merepresentasikan dunia nyata dalam bahasa ideal yang memang sesuai dengan struktur logika dari realitas dunia ini. Para tokoh filsafat bahasa atau the ordinary languange philosophy berkonsentrasi pada spek semantik bahasa seperti dikupas habis oleh Wittgenstein dalam Tractatus Logico Philosophicus (1921). Dia, seperti dalnya gurunya Russell, mengatakan bahwa ungkapan bahasa metafisik adalah omong karena tidak menggambarkan realita. Dalam buku itu ia kurang lebih mengatakan bahsa sebagai suatu himpunan besar yang terdiri atas proposisi-proposisi atomis yang pada hakikatnya menggambarkan realita atomis. Dengan begitu, sebuah proposisi adalah sebuah fungsi kebenaran (truth function) dari proposisi-proposisi elementer. Makna sebuah proposisi itu adalah kenyataannya yang sesuai dengan fakta atau keberadaan suatu peristiwa (Kaelan 1998: 144).

Jenis-jenis Kebenaran



            Telaah dalam filsafat ilmu, membawa orang kepada kebenaran dibagi dalam tiga jenis. Menurut A.M.W. Pranarka (1987) tiga jenis kebenaran itu adalah:
1.      Kebenaran Epistemologikal
Kebenaran epistemologikal adalah pengertian kebenaran dalam hubungannya dengan pengetahuan manusia. Kadang-kadang disebut dengan istilah veritas cognitionis atau veritas logica.
2.      Kebenaran Ontologikal
Kebenaran ontologikal adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat kepada segala sesuatu yang ada ataupun diadakan. Apabila dihubungkan dengan kebenaran epistemologikal kadang-kadang disebut juga kebenaran sebagai sifat dasar yang di dalam objek pengetahuan itu sendiri.

Kekhilafan



            Dalam pengetahuan kekhilafa terjadi karena kesalahan pengambilan kesimpulan yang tidak runtut terhadap pengalaman-pengalaman. Jadi dalam hal ini khilaf muncu karena adanya peranggapan atau pernyataan yng sudah dianggap benar secara umum. Erat hubungannya dengan masalah kekhilafan ini pendapat Francis Bacon (1561-1626) degan teorinya yang terkenal yang dinamakan idola yang tercermin dalam bentuk ilusi dan projudice yang menyelewengkan pemikiran ilmiah. Idola tersebut antara lain sebagai berikut.
1.      Idola teatri (sanduwara), yaitu sesuatu yang sering dilihat oleh seseorang atau selalu tampak dalam kehidupan sehari-hari, lama-kelamaan tanpa disadari dan diselidiki dianggap sebagai kebenaran.
2.      Idola fori (pasar), yaitu keadaan dalam pikiran seseorang yang menyebabkan pikirannya tidak dapat berfungi dengan baik, karena orang tersebut hanya melihat sesuatu dari segi bentuk atau luarnya saja.
3.      Idola specus (gua), yaitu suatu idola yang diakibatkan oleh individualitas manusia. Seseorang seolah-olah berada dalam tempat yang gelap seperti di dalam gua, hal ini terjadi karena tidak didukung oleh lingkungan, pendidikan, dan karakter yang baik, sehingga orang ini selalu terkungkung dengan keterbatasan dirinya yang menyebabkan dirinya tidak memahami segala sesuatu dengan baik.

4.      Idola tribus, yaitu idola yang diakibatkan oleh kodrat manusiawi sehingga orang yang terkena idola ini tidak dapat memahami apa yang dihadapinya. (Abbas Hamami Mintaredja, 1980, hlm, 18-19)

Meraba Pemikiran Filsafat


Bahasa biasa secara akademik dikaji oleh linguistik,filologi, dan antropologi dengan fokus perhatian masing-masing yang berbeda. Tugas filsafat bahasa adalah antara lain menjelaskan hakikat “mengetahui” bahasa dan menjelaskan berbagai metode dan konsep demi suksesnya penguasaan bahasa. Mengapa ada filsafat bahas , bukankah sudah ada linguistik yang mempelajari bahasa secara ilmiah? Dua cabang linguisti, yaitu fonologi sudah jelas mempelajarari bunyi, sintaksis mempelajari struktur gramatika bahasa dan kajiannya relatif mantap.

Positivisme Logis


Semua pemikiran filsafat saling mempengaruhi, sehingga suatu teori dapat ditelusuri kepada para pendahulunya. Wittgenstein misalnya lebih dulu mengatakan bahwa proposisi yang menggambarkan suatu realitas dunia yang memiliki struktur logis. Struktur logis dunia terlukiskan dalam struktur logis bahasa. Menurutnya, metafisika melampaui batas-batas bahasa. Pengaruh Wittgenstein tampak pada kelompok Wina atau Vienna ircle (1922) yang sering disebut aliran neopositivism atau positivisme logis. Positivisme logis menggunakan teknik analisis untuk mencapai dua tujuan,yaitu: (1) menghilangkan atau menolak metafisika, dan (2) demi penjelasan bahasa ilmiah dan bukan untuk menganalisis pernyataan-pernyataan fakta ilmiah. Dengan analisis filsafati kita tidak dapat menyatakan sesuatu itu real, paling-paling menyatakan apa artinya apabila kita menyatakan bahwa sesuatu itu real. Empirisme sangat mengandalkan pengalaman pengalaman empiris (maka dari itu sering disebut empirisme logis). Bagaimana mungkin ia dapat menjelaskan alam metafisik yang belum teralami, misalnya kematian? Jadi penolakan terhadap metafisika itu tidak boleh dimaknai menolak keberadaan dunia luar atau transenden seperti kematian itu. Dengan kata lain, bagi kelompok ini pernyataan metafisika tidak menyatakan sesuatu sama sekali alias omong kosong.

FILSAFAT DAN MATEMATIKA? BERHUBUNGANKAH?



            Sebagai orang yang ada di lingkungan matematika dan sedang belajar filsafat, tentunya terbersit dalam pikiran saya ‘ada gak ya hubungannya antara filsafat dan matematika?’ akhirnya saya pun mencari tau dan mendapatkan pembahasannya.
            Banyak orang berpendapat bahwa filsafat dan matematika tidak memiliki hubungan sama sekali. Namun, jika kita mengkajinya maka kita akan menemukan hubungan keduanya. Seperti yang diungkapkan oleh The Lieng Gie (1999) bahwa filsfat dan matematika merupakan dua bidang rasional yang memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak diragukan lagi (saling berkaitan). Betapa kelirunya pendapat yang menyatakan bahwa filsafat dan geometri (salah satu cabang matematika ) sesungguhnya lahir pada masa yang sama, dari bapak yang sama dan dari pikiran orang yang sama bernama Thales.

Sifat Kebenaran


         Menurut Abbas Hamami Mintaredja (1983), kata ‘kebenaran’ dapat digunakan sebagai suatu benda yang kongkret maupun abstrak. Jika subjek hendak menuturkan kebenaran artinya proposisi yang benar. Proposisi maksudnya makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement. Jika subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas,  sifat atau karakteristik, hubungan, dan nilai. Hal yang demikian karena kebenaran tidak begitu saja terlepas dari kualitas, sifat hubungan, dan nilai itu sendiri.
Dengan adanya berbagai kategori tersebut, tidaklah berlebihan jika pada saatnya subjek yang memiliki pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian yang amat berbeda satu dengan yang lainnya, dan di situ terlihat sifat-sifat kebenarannya.

Tema Filsafat Bahasa


Wittgenstain bersama Russell dan para pengikutnya pada permulaannya tidak percaya bahwa bahasa siasa dapat dipakai sebagai ekspresi filsafat, dan mengharapkan adanya bahasa ideal seperti logika simbolis untuk kepentingan filsafat. Tema filsafat berikut ini tidak saja diajukan oleh Wittgenstein tetapi juga dari para filsuf lain yang mengajukan teorinya sekaitan dengan bahasa.

Hubungan antara Epistemologi dan Pedagogik


Dalam tahun belakangan ini sejumlah laporan dan berwenang melaporkan telah diterbitkan anjuran penggabungan pemecahan masalah dalam mengajar yang diberikan setiap anjuran. Untuk konsep-konsep pengajuan masalah dan penelitian dimengerti kedalam juru bahasa  dan mengerti sesuai apa yang telah kita lihat. Guru sangat berprestasi dalam pemecahan masalah, tidak menyebutkan pendekatan mangajarnya,tergantung kepercayaan mereka tentang matematika. (Schoenfield 1985).
Rintangan yang kedua adalah implementasi. Ini melibatkan hubungan antara teroi mengajar dan belajar. Yang memasukkan Pedagogi yang sebenarnya dalam praktik ruang kelas . Pada skala besar ini perbedaan antara rencana dan kurikulum mengajar. Pada skala kecil perbedaan ini antara mendukung teori guru dalam mengajar dan belajar matematika disekolah.
Di Inggris setiap laporan telah disimpulkan Cockroft(1982) dan inspektorat tertinggi (1985) dan di Amerika Serikat mereka telah memasukkan guru matematika dalam dewan nasional. Bagaimanpun, satu rintangan untuk perbaikan kurikulum adalah interpensi.

Hubungan Ketergantungan Hirarkis antar Konsep


Satu asumsi bahwa ada hubungan hirarkis yang pasti dari ketergantungan antara konsep dan keterampilan, yang menghasilkan hirarki yang unik dari konsep dan keterampilan, dua kritik utama bisa dinaikkan melawan asumsi ini.

Humanis Lama


Para humanis lama tidak mengakui bahwa ada masalah yang berhubungan pengetahuan dengan pendidikan yang bersangkutan dengan ras atau kelompok etnis. Mereka bisa dikatakan untuk membuat fetish dari kemurnian budaya kelas menengah yang mendalam, dan matematika dipandang sebagai murni dan tidak terkait dengan menggunakan isu-isu sosial (penafsiran di atas kemurnian berlaku di sini). Kelompok ini memiliki beberapa keunggulan budayanya sendiri, dan melihat matematika dalam kebuyaan sebagai kekurangan daya, abstraksi dan kemurnian matematika akademik Barat. Akibatnya isu-isu ras, gender atau keragaman sosial dianggap tidak relevan dengan matematika, dan setiap upaya untuk mengakomodasi isu-isu sosial seperti membuat pengetahuan dan belajar mandiri lebih mudah diakses untuk mencairkan standar dan mengancam kemurnian subjek. Singkatnya, pandangan ini secara aktif mempromosikan dominasi budaya absolutisme, yang merupakan dasar epistemologis rasisme kelembagaan


Ideologi Hirarkis Progresif


Dua dari pandangan ini, pragmatis teknologis dan pendidik progresif, untuk alasan yang berbeda, bersifat reproduktif dalam hirarki sosial, namun tidak begitu kaku dan tegas daripada yang sebelumnya. Keduanya memandang dirinya sebagai meritokratik dengan mengizinkan atau mendorong pergerakan sosial dalam hirarki sosial pyramidal. Pragmatis teknologis bertujuan memenuhi kebutuhan industri, karyawan dan masyarakat, melalui pergerakan sosial yang naik dari keterampilan teknologi. Pendidik progrsif berfungsi memenuhi kebutuhan individu, dengan mendorong mereka untuk mengembangkan diri sebagai manusia. Hasil dari potensi pergerakan sosial yang naik ini, bagi yang mengembangkan kepercayaan diri, dan pengathuan dan keterampilan. Dua ideologi mengubah tingkat progresif, mencari peningkatan pada masyarakat dan individu. Namun, dibalik tujuan yang jelas ini adalah penerimnaan stratifikasi sosial. Akibatnya dua posisi cenderung  menciptakan kembali struktur hirarki masyarakat, dengan sedikit modifikasi, yaitu gerakan naik dari sektor kecil masyarakat.

Ideologi Hirarkis yang Keras


Dua dari ideologi, pelatihan industrial dan humanist lama, sifatnya kuat dalam reproduksi. Ini memenuhi kepentingan untuk mereproduksi struktur masyarakat hirarkis. Pelatihan keterampilan dasar ditujukan untuk menghasilkan pekerja yang tidak bergerak, sedangkan studi matematika yang lebih tinggi ditujukan untuk kelas menengah masa datang. Dalam tiap ideologi, teori matematika yang keras diterjemahkan dalam kurikulum matematika hirarkis yang kuat; hal ini dikaitkan dengan pandangan hirarkis atas kemampuan yang tetap dalam bidang matematika, juga dengan pandangan masyarakat hirarkis yang kuat, kelas dan pekerja.

Ideologi Margaret Thatcher


Thatcher sangat dipengaruhi oleh ayahnya, seorang penjaga toko-grosir, dengan nilai-nilai khas borjuis-petit. Dia menerapkan nilai-nilai Victoria kerja keras, menolong-diri (self-help), penganggaran yang ketat ini, amoralitas pemborosan, tugas bukan pleasure.Nilai ini juga diperkuat oleh Methodisme (dia masih membaca meningkatkan kerja melalui theologians moral) dan berkata tentang Wesley ‘Dia menanamkan etos kerja, dan tugas. Anda bekerja keras, Anda punya hasil oleh usaha Anda sendiri.’ Dia memiliki pandangan dualistik dunia, keyakinan yang benar versussalah, baik lawan jahat, ditambah dengan pengetahuan tertentu dari kebenaran sendiri mutlak dan tidak dapat dipertentangkan.

Ideologi Pelatih Industri



Ideologi dan ‘Nilai-nilai Victoria’dari tradisi sekolah dasar menggambarkan pandangan pendidikan dan moral kanan baru dalam pendidikan, seperti ditunjukkan pada kutipan berikut ini.
[Sekolah Dasar] ‘didasarkan pada otoritas guru, yang tugasnya itu ... untuk memastikan bahwa fakta-fakta yang paling penting dalam pelajaran-pelajaran yang ingat ... dia punya gudang informasi berharga untuk memberikan kepada anak-anak tak terdidik dalam perawatannya.‘
Kelebihan ‘aritmatika Victoria’ adalah bahwa hal itu ... berdasarkan fakta kerastentang angka, dan itu dibahas dalam kuantitas konkret terukur seperti galon bir, ton batubara dan meter linoleum ... aritmatika Victoria menang meletakkan(hand down) pada matematika baru ... standar keterampilan dalam perhitungan dan manipulasi bilanganjauh lebih penting daripada berkecimpung dalam suatu matematika baru yang tampaknya terlalu teoritis

Ideologi Perubahan Sosial


Terakhir, ada ideologi perubahan sosial dari pendidik publik. Pandangan ini mengakui keberadaan dan ketidaksamaan dari hirarki kelas sosial pyramidal, namun berusaha mengubahnya untuk mencapai kebenaran sosial. Pandangan ini berusaha menghancurkan siklus reproduktif dalam pendidikan, baik yang kaku maupun yang progresif dengan secara terbuka mengakui keberadaannya dan mempromosikan pendidikan emancipatory. Skali lagi, matematika, kemampuan dan masyarakat dihubungkan  dengan ideologi ini, namun dengan ketidak-stabilannya, sifatnya yang bisa ditempa dan penolaknnya atas struktur hirarkis yang pasti.

Ideologi Progresif di Seluruh Dunia


Ideologi pendidik progresif dalam pendidikan matematika diwakilkan seluruh dunia, dalam beberapa tempat seperti Benua Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Sehingga di Amerika Serikat, Dewan Nasional Pengajar Matematika mengumumkan sebuah ‘agenda untuk aksi’ yang menyatakan sebagai rekomendasi pertamanya:
Penyelesaian masalah mungkin fokus pada sekolah matematika di tahun 1980-an… Pokok perkembangan aktivitas penyelesaian masalah adalah sebuah pemikiran terbuka, sebuah sikap keingintahuan dan penjelasan… guru matematika harus membuat lingkungan kelas di mana pemecahan masalah dapat diselesaikan… [hal ini] utamanya merupakan sebuah aktivitas membangun.   (Dewan Nasional Pengajar Matematika, 1980, halaman 2-4)
Baru-baru ini, Dewan Nasional Pengajar Matematika (1989) telah mengumumkan pernyataan tentang niat ‘standar dalam matematika sekolah’ mewujudkan banyak Ideologi pendidik progresif, sebagaimana komentar salah satu pengarangnya:

Semangat penyelidikan dan penjelajahan harus memahami instruksi… guru harus menyediakan sebuah lingkungan kepedulian… siswa harus aktif dalam proses pembelajaran, penyelidikan dan penjelajahan baik secara individu maupun kelompok… guru harus menjadi penyedia pembelajaran, tidak hanya pemberi pengetahuan.
 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang