Sejarah pendidikan merupakan
perkembangan yang amat panjang, namun kontras antara tekanan pendidikan di masa
lalu dan sekarang tampaknya dapat ditengarai secara jelas, meskipun untuk
mengurutkan detail-detailnya masih diperlukan penelitian-penelitian yang lebih
cermat.
Secara
skematis, kontras pendidikan itu dapat dilakukan sebagai pergeseran dari
kepentingan terbatas bagi elit pemimpin meluas ke kepentingan partisipasi
rakyat banyak; dari kepentingan pembinaan watak kepribadian ke arah
pengembangan keterampilan dan keahlian untuk bekerja; dari kepentingan individu
sebagai manusia utuh ke kepentingan pergaulan sosial yang lebih luas terbuka; dari
kepentingan untuk melestarikan nilai-nilai tradisional ke kepentingan perubahan
sosial; dari nuansa religious dan keagamaan ke kepentingan nuansa duniawi dan
sekuler.
Belakangan
ini, dengan semakin berkembangnya masyarakat kea rah globalisasi, dimana manusia
semakin dihubungkan dalam keprihatinan yang sama meyangkut dunia ini,
sebagaimana dirumuskan oleh Jacques Delors dkk dalam laporannya ke UNESCO,
kepentingan dunia pendidikan pun tampaknya menjadi semakin kompleks. Akan
tetapi, masyarakat yang berbeda latar belakang budaya dan prioritas pilihan
nilainya tampaknya belum siap untuk bersepaham mengenai pendidikan macam apa
yang diperlukan masyarakat global dalam millenium baru ini. Di satu pihak,
kecenderunagn global menuntut pola pendidikan yang kurang lebih searah, tetapi
di lain pihak, banyak masyarakat local masih khawatir jangan-jangan
kecenderungan global akan melindas kepentingan dan melucuti kekayaan tradisi
dan kebudayaan lokal mereka.
