Rabu, 28 September 2016

Pendidikan Moral, Pengajaran Agama, dan Klarifikasi Nilai



Dalam masyarakat kita dewasa ini ada keinginan yang sangat kuat untuk menjadikan pendidikan sebagai tumpuan harapan bagi masa depan bangsa dan negara. Para pemuka masyarakat biasanya mempunyai jangkauan yang agak jauh ke depan. Mereka sering mengungkapkan pandangan bahwa pendidikan harus mampu menngkatkan sumber daya manusia, mencetak pemimpin-pemimpin cerdas untuk masa depan, mampu memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk bekerja dan berperan dalam pembangunan negara, membina akhlak dan moral masyarakatnya, dan mempersiapkan mereka menjadi generasi penerus atau pembaharu perubahan sosial.
Akan tetapi, kebanyakan orang tua mempunyai pemikiran yang sederhana  bahwa dengan memasukkan anak dalam sekolah, mereka boleh berharap anaknya kelak akan lebih mudah memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang baik dan mmepunyai kedudukan yang terhormat. Pertanyaan kita adalah apakah harapan masyarakat ini tidak berlebihan? Apakah semua yang diungkapkan di atas merupakan kompetensi pendidikan saja, lebih-lebih jikalau pendidikan sebagaimana lazim dimengerti, terbatas pada sekolah-sekolah?
Yang pertama harus disadari ialah, tidak seluruh harapan tersebut menjadi beban dan tanggungan lembaga pendidikan formal saja. Dalam masyarakat modern terdapat banyak lembaga yang menangani banyak hal yang berlainan. Semakin modern suatu masyarakat, semakin banyak lembaganya. Akan tetapi, kendati pun demikian setiap lembaga mempunyai tugas-tugas khusus yang berlainan, namun setiap kegiatan dari lembaga itu semestinya memperlihatkan juga aspek edukatif, yang mendorong warga masyarakat untuk semakin mendewasakan dan memanusiakan diri.
Berikut kami akan membahas tiga topic yang sering dikemukakan dan menjadi persoalan dalam pendidikan: moral, agama, dan nilai. Persoalan moral, agama, dan nilai dalam rangka pendidikan merupakan persoalan yang amat rumit. Sebetulnya ketiga hal tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Namun, untuk dapat melihat hubungannya satu dengan yang lain, tidak boleh tidak kita mesti melihatnya satu per satu, tentu saja dengan pengertian bahwa pemisahan ini hanyalah dalam rangka metodis. Seperti tampak dalam pembicaraan, kesatuan antara ketiga persoalan begitu eratnya sehingga dalam pemahaman mengenai masing-masing itu, tumpang tindih tak dapat dihindari.
 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang