Dimensi
filsafat dalam pendidikan mempersoalkan pernyataan dasar mengenai apakah pendidikan itu? Apa tujuannya? Dengan demikian, dimensi filsafat mencoba
menjawab persoalan pendidikan pada dirinya sendiri atau pendidikan qua
pendidikan? Dewasa ini persoalan mendasar tentang pendidikan qua pendidikan
tampaknya kurang diminati, karena dianggap tidak menyumbangkan pemikiran yang
bisa dipakai untuk pemecahan langsung terhadap persoalan – persoalan yang
dihadapi masyarakat menyangkut praktik pendidikan. Atau, barangkali masyarakat
sudah sedemikian terobsesi oleh begitu banyaknya persoalan pragmatis dan
terjerat dalam labirin persoalan praktis, sehingga tidak mampu lagi keluar
untuk mencari ujung benang kusut dari seluruh persoalan pendidikan. Kalau
demikian, dimensi filsafat sebetulnya justru memperlihatkan urgensinya yang
nyata saat ini juga.
Dimensi
filsafat memamng kurang mendapatkan perhatian dalam wacana pendidikan kita, karena dianggap abstrak dan idealis. Situasi ini diperberat oleh perkembangan
mental baik di kalangan pemerintah maupun masyarakat umum yang terbawa oleh
arus neo-liberal, yang mempunyai kecenderungan memikirkan persoalan pendidikan
secara pragmatis, atas dasar permintaan dan kebutuhan pasar yang sesaat-sesaat.
Bahkan sudah diketahui umum bahwa capital-kapital besar bisa juga menciptakan
dan menyebarluaskan kebutuhan, termasuk mdoel-model dan tujuan pendidikan.
Dalam situasi seperti ini, konsep manusia sebagai dasar pemikiran tentang
pendidikan kurang banyak didalami dan karenanya menjadi kabur, sementara konsep
lama yang masih dipegang teguh sudah tidak mencerminkan keadaan yang nyata dan
karenanya tidak memadai lagi untuk pendasaran kehidupan zaman sekarang. Jadi
saat ini, kita sangat membutuhkan pemikiran filsafat yang baru menyangkut
pendidikan.
