Rabu, 28 September 2016

Persoalan – persoalan dalam Pendidikan


                Eko Haryanto (15 tahun), siswa kelas VI SD Kepunduhan 01, Kecamatan Kramat, Kabupaten   
       Tegal, Jawa Tengah, berusaha bunuh diri karena orangtuanya tidak mampu membayar uang sekolah. 
       Untunglah dia sempat tertolong dan kemudian dirawat di rumah sakit. Karena kasus ini Menteri 
       Pendidikan nasional memerintahkan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Indra Djati Sidi untuk 
       menjenguk yang bersangkutan dan mengecek duduk persoalannya. Kepada orangtuanya, Indra    
       menyerahkan bantuan pemerintah sebesar 10 juta rupiah untuk biaya perawatan dan beasiswa untuk  
       yang bersangkutan sampai tamat SMP. Berita semacam ini tentu saja mnegejutkan kita dan  
       memperlihatkan salah satu potret dari tragedy pendidikan di Indonesia.

Akan tetapi, tragedy Eko bukanlah satu-satunya kasus yang terjadi dalam dunia pendidikan kita. Sebelum Eko, sudah beberapa kali terjadi siswa yang melakukan bunuh diri karena malu tidak mampu membayar uang sekolah. Haryanto dari SDN Sanding IV, Garut dan Sembodo dari Kebumen yang melakukan bunuh diri justru di Hari Anak Nasional 2004. Bukan hanya pelajar, tetapi juga mahasiswa, dan tidak hanya menyangkut uang sekolah, tetapi juga masalah lainnya, yang semuanya terkait dengan sekolah. Dalam buku Pendidikan Manusia Indonesia (2005), Tonny D. Widiastono memperlihatkan sejumlah kasus lain: Muksin bin Miswan, mahasiswa D3 program studi akuntansi dari sebuh universitas di Bogor yang nekat mmebakar diri; Iwan, mahasiswa sebuha PTS di Yogya yang batal mati tetapi terlanjur minum racun serangga. Semua contoh ini merupakan persoalan yang menyangkut subjek didik, entah siswa ataupun mahasiswa.
Persoalan – persoalan dalam pendidikan masih bisa diperluas dan diperpanjang lagi, menyangkut juga subjek pendidik sendiri, yakini guru, dosen, pengajar, atau menyangkut sesutau yang lebih abstrak, seperti kurikulum, metodologi pembelajaran, sistem evaluasi, dan sebagainya. Persoalan – persoalan ini dapat kita sebut sebagai persoalan – persoalan dalam pendidikan. Perhatikan kata “dalam” dan bentuk jamak dari “persoalan”. “Persoalan-persoalan dalam pendidikan” berbeda secara kategoris dari “persoalan pendidikan” par excellence dalam hal bahwa yang pertama merupakan masalah-masalah pragmatis (ada banyak), sedangkan yang kedua merupakan masalah filosofis (hanya ada satu). Tentu saja masalah-masalah pragmatis perlu diketahui dan dibicarakan agar dapat diatasi dengan tepat cepat, karena sifatnya yang mendesak. Lebih lanjut masalah-masalah ini berorientasi pada hasil yang bisa diprediksi dan karenanya dianggap konkret. Akan tetapi karena alasan ini, tidak jarang orang lantas menutup diri dalam persoalan-persoalan pragmatis saja, sementara persoalan yang bersifat filosofis sering diabaikan atau bahkan dilupakan, karena dianggap abstrak dan kurang berguna untuk membicarakannya. Tentu saja pembicaraan tentang pendidikan pada tataran filsafat tidak berorientasi pada manfaat, hasil, atau kegunaan, melainkan pada visi yang memberi wawasan. Karena itu pembicaraan ini mempunyai scope yang berbeda dari pembicaraan pragmatis. Namun, paham filsafat pendidikan sangat penting untuk memberi dasar yang benar untuk penyelesaian-penyelesaian masalah persoalan praktis.
Filsafat pendidikan membicarakan “persoalan pendidikan”. Rumusan pertanyaannya bisa sangat sederhana, seperti apakah pendidikan itu? Atau, apakah tujuan dari pendidikan itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, diperlukan perenungan dan diskusi panjang sampai didapatkan pernyataan dasar yang diharapkan dapat menjadi tempat pijak untuk memecahkan “persoalan-persoalan dalam pendidikan” itu. Memang, filsafat pendidikan tidak serta merta bisa diterapkan untuk memecahkan persoalan – persoalan dalam pendidikan begitu luas, karena seperti sudah disinggung di atas, filsafat tidak mnejawab persoalan secara pragmatis melainkan secara visioner dan memberi wawasan. Para pakar pendidikanlah yang harus mengalirkan pemikiran-pemikiran dasar filsafat supaya dapat mengairi atau memberi terang dalam pemecahan soal-soal praktis itu.
 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang