Filsafat bagi pendidikan adalah teori umum sehingga dapat menjadi pilar
bagi bangunan dunia pendidikan yang berusaha memberdayakan setiap pribadi warga
negara untuk mengisi format kebudayaan bangsa yang didinginkan dan diwariskan.
Aliran rekonstruksionisme adalah sepaham dengan aliran perenialisme
dalam tindakan mengatasi krisis kehidupan modern. Aliran rekonstruksionisme
berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia
atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang
sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan
norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang,
sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa
merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan
bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang
sungguh bukan hanya teori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat
diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan
kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat
tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan
masyarakat bersangkutan. Pada prinsipnya, aliran rekonstruksionisme memandang alam metafisika merujuk
dualisme, aliran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam
hakikat sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan hakikat rohani.Kedua macam
hakikat itu memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri, sarna dengan azali
dan abadi, dan hubungan keduanya menciptakan suatu kehidupan dalam alam.
Descartes, seorang tokohnya pernah menyatakan bahwa umumnya manusia tidak sulit
menerima atas prinsip dualisme ini, yang menunjukkan bahwa kenyataan lahir
dapat segera ditangkap oleh panca indera manusia, sementara itu kenyataan
bathin segera diakui dengan adanya akal dan petasaan hidup. Di balik gerak
realita sesungguhnya terdapatlah kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan
penyebab utama atas kausa prima. Kausa prima, dalam konteks ini, ialah Tuhan
sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak, Tuhan adalah aktualitas murni yang sama
sekalisunyi dan subtansi.
Alam pikiran yang demikian bertolak hukum-hukum dalam filsafat itu
sendiri tanpa bergantung padii ilmt pengetahuan.Namun demikian, meskipun
filsafat dan ilmu berkembang ke arah yang lebih sempurna, tetap disetujui bahwa
kedudukan filsafal lebih tinggi dibandingkan ilmu pendidikan. Yang mana
pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru
haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhirnya akan dapat
memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga
keluaran yang dihasilkan (anak didik).