Setiap manusia memiliki kepribadian yang
berbeda-beda. Kepribadian tersebut secara umum digolongkan ke dalam dua tipe,
yakni ekstrovert dan introvert. Menurut Suryabrata, seseorang dengan
kepribadian ekstrovert lebih berorientasi ke dunia luar artinya cenderung
bersikap positif terhadap lingkungan sekitarnya. Sosok ekstrovert biasanya
mudah bergaul, menyukai hal-hal yang baru, ramah, dan terbuka.
Berbeda dengan
ekstrovert, sosok introvert sering kali dianggap sebagai orang yang pemalu
padahal orang yang pemalu belum tentu dapat dikatakan berkepribadian introvert.
Menurut Eysenck, seseorang dengan kepribadian introvert memiliki sifat tenang,
suka merawat diri, bersikap hati-hati, pemikir, suka menyendiri, dan berorientasi
pada tugas.
Dilihat dari berbagai
ciri-ciri tersebut, saya cenderung berkepribadian introvert. Hal lainnya yang
menunjukkan kecenderungan tersebut adalah ketika bertemu dengan orang baru,
saya tidak akan memulai percakapan terlebih dahulu dengannya apabila orang
tersebut tidak memulainya. Jadi, saya tidak akan berbicara jika tidak ditanya.
Menyadari bahwa saya
merupakan sosok introvert, saya mulai mengikuti kegiatan organisasi sejak duduk
di bangku SMA. Hal ini saya lakukan karena mendapatkan suatu pengalaman dari
kakak kelas saya bahwa ia merupakan sosok introvert tetapi ia mampu berbicara
dengan baik di depan umum setelah ia berorganisasi. Meskipun demikian, sisi
introvertnya tetap ada dalam dirinya tetapi kadarnya berkurang. Setelah mencoba ikut berorganisasi, saya pun
merasakan hal yang sama bahwa saya sedikit lebih berani berbicara di depan
orang banyak.
Singkat cerita, saya pun
lulus SMA dan ingin lanjut ke Perguruan Tinggi. Sebelum melanjutkan ke
Perguruan Tinggi, saya merasa bimbang dalam memilih jurusan yang ingin saya
pilih yaitu PGSD. Mengapa demikian? Karena saya takut nanti tidak mampu menjadi
pendidik yang baik ke depannya karena saya harus berhadapan dengan anak-anak
usia SD yang membutuhkan sosok pendidik yang cenderung ekstrovert. Selain itu,
kebanyakan orang mengganggap bahwa sosok introvert itu aneh, sulit beradaptasi
dengan hal yang baru, sangat berhati-hati, penuh pertimbangan, dan lainnya. Hal
tersebut tentu saja membuat saya minder dan bingung. Dengan melakukan beberapa
pertimbangan dengan orang tua, akhirnya saya memutuskan untuk tetap memilih
jurusan PGSD.
Setelah memasuki jurusan
PGSD di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan menjalani kuliah sampai semester
5 ini, saya diberikan tugas oleh salah satu dosen untuk melaksanakan praktik
mengajar di SD. Praktik mengajar tersebut saya laksanakan di kelas 2 di SDN
Kampung Melayu 01 Pagi selama 4 kali. Mengapa saya memilih kelas rendah? Karena
pada mata kuliah yang lain saya diwajibkan melaksanakan praktik mengajar di SD
kelas tinggi sehingga pada mata kuliah ini saya memilih melaksanakan praktik
mengajar di SD kelas rendah agar saya memiliki pengalaman bagaimana rasanya mengajar
di kelas rendah dan di kelas tinggi.
Pada kali pertama mengajar, saya merasa deg-degan sekali
karena saya akan menjadi pusat perhatian selama proses pembelajaran tetapi saya
berusaha untuk tetap tenang dan mengontrol diri saya. Pada pertemuan berikutnya
sampai pertemuan terakhir, saya mulai terbiasa mengajar siswa di kelas 2
tersebut. Saya mulai hafal nama-nama mereka, sifatnya, hobinya, kelebihannya
serta kekurangannya. Meskipun cenderung introvert, saya mencoba membuka diri
saya dalam praktir mengajar tersebut. Saya memberanikan diri untuk berbicara di
depan kelas, berbaur dengan siswa, mengajak siswa mengobrol ketika istirahat,
bersikap tenang, dan membimbing siswa saat belajar.
Selama melaksanakan
praktik mengajar, berbagai macam hal saya hadapi di kelas 2. Ada siswa yang
bertengkar saat jam pelajaran maupun istirahat, ada yang saling mengejek
temannya, ada yang jatuh sampai kakinya luka dan berdarah, ada yang pusing, ada
yang mimisan, ada yang hobinya selalu bernyanyi saat belajar, ada yang suka
berjalan-jalan saat belajar, ada yang membuat temannya menangis, ada beberapa
siswa yang menggambar di papan tulis sampai tinta spidolnya hampir habis, ada
yang selalu bertanya berulang kali padahal saya sudah menjelaskan, ada yang
berebutan maju ke depan kelas ketika saya meminta mereka membaca nyaring di
depan kelas, dan ada pula yang sangat pendiam serta tidak mau menulis.
Semua hal yang terjadi
selama praktik mengajar tersebut di luar ekspektasi saya. Contohnya, beberapa
siswa berebutan maju ke depan kelas ketika saya meminta mereka membaca nyaring
di depan kelas. Pada praktik mengajar di hari pertama, yang bersedia membaca
nyaring di depan kelas sebanyak 4 siswa. Kemudian pada pertemuan berikutnya,
saya kira jumlahnya tetap sama ternyata tidak. Siswa yang bersedia bertambah
jumlahnya dan hampir semuanya ingin membaca nyaring di depan kelas. Saya sangat
senang karena mereka antusias saat belajar. Ketika menghadapi siswa yang
berebutan maju ke depan kelas, saya mengkondisikan siswa agar tertib kembali
dan memilih siapa yang ingin membaca di depan kelas dengan mengacungkan tangan
dengan cepat kemudian saya memilih lima orang dari mereka untuk membaca ke
depan kelas. Lucunya, ketika disuruh mulai untuk membaca, mereka malah
bergeser-geser sampai ke pintu kelas karena tidak mau baca pertama. Untuk siswa
yang lainnya, saya bimbing mereka untuk membaca nyaring juga secara bersamaan
dengan tetap duduk di bangku masing-masing. Hal ini saya lakukan sebagai upaya
menghargai keaktifan mereka agar mereka tetap mempunyai semangat yang tinggi
untuk belajar, dalam hal ini terutama untuk membaca.
Contoh yang lainnya
adalah ada siswa yang sangat pendiam dan ia tidak mau menulis, tetapi ia
memperhatikan saya ketika sedang mengajar. Saya mencoba mendekati dan
membujuknya tetapi ia tetap tidak mau menulis. Pada pertemuan pertama, saya biarkan
dahulu dan berpikir mungkin saya masih asing baginya sehingga ia belum mau
dibimbing oleh saya. Kemudian pada pertemuan kedua ternyata ia juga tetap
melakukan hal yang sama. Saya merasa bingung akhirnya saya bertanya dengan wali
kelasnya yaitu Ibu Zulaiha dan beliau mengatakan bahwa siswa tersebut memang
pendiam sekali dan kadang tidak mau menulis sehingga ia harus selalu didekati
dan dibujuk dengan baik. Akhirnya pada pertemuan ketiga dan keempat, saya
mengikuti saran dari Ibu Zulaiha. Ketika sedang istirahat, siswa tersebut duduk
di dalam kelas dan memakan bekal yang ia bawa dari rumah. Saya pun
menghampirinya kemudian mengajaknya mengobrol. Meskipun ia hanya menjawab
dengan singkat atau anggukkan kepala saja, saya tetap berusaha mendekatinya.
Akhirnya ketika belajar kembali dilanjutkan, ia mau menulis meskipun dengan
waktu yang lama. Tetapi saya sangat senang karena ia akhirnya mau menulis.
Charles Schwaab
mengatakan bahwa asset yang paling besar dari seorang guru adalah membangkitkan
antusiasme pada siswa. Cara untuk membangkitkan antusiasme tersebut adalah
dengan memberikan penghargaan yang tulus kepada siswa. Siswa dapat membedakan
antara perlakuan yang tulus dan tidak tulus. Oleh karena itu, berikan
penghargaan yang tulus kepada siswa dalam proses pembelajaran maka kita sebagai
seorang pendidik akan dihargai oleh siswa.
Setelah praktik mengajar
selesai dilaksanakan, saya mendapat pengalaman yang belum pernah saya rasakan
sendiri sebelumnya. Saya menjadi paham bahwa jadi guru itu sangat sulit, harus
sabar, harus mampu menangani segala hal yang terjadi kelas, harus mampu
mengontrol keaktifan siswa, mampu menangani ketidakaktifan siswa, dan yang
paling penting adalah harus mampu mencintai keunikan mereka masing-masing agar
mengajar menjadi hal yang menyenangkan.
Selain itu, saya juga
mendapatkan pengalaman bahwa mengajar itu juga membutuhkan volume suara yang
besar dan saya harus menjaga kestabilan suara agar suara saya tidak habis
sampai pembelajaran selesai. Ini merupakan kali pertamanya saya merasakan
bagaimana rasanya suara habis karena selama ini saya belum pernah merasakannya.
Setelah praktik mengajar
tersebut, saya juga paham bahwa sosok introvert juga mampu mendidik siswa SD.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya di
sebuah SD juga menunjukkan bahwa 14
orang guru dengan kepribadian introvert mampu mendidik dengan baik seperti 31
orang guru lainnya dengan kepribadian ekstrovert.
Dengan demikian, mendidik
bukan tergantung bagaimana tipe kepribadian yang kita miliki tetapi tergantung
dari bagaimana cara kita mengembangkan kepribadian yang kita miliki agar mampu
mendidik dengan hati sehingga permasalahan apapun yang dihadapi di kelas dapat
diselesaikan dengan perasaan yang senang tanpa merasa terbebani. Saya juga
berterima kasih kepada dosen yang telah memberikan tugas ini karena saya
memperoleh banyak pengalaman mengajar yang sangat berharga, membuat saya
percaya diri, dan lebih mencintai dunia pendidikan.