Minggu, 10 Desember 2017

Mampukah Sosok Introvert Mendidik Siswa SD?


         Setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Kepribadian tersebut secara umum digolongkan ke dalam dua tipe, yakni ekstrovert dan introvert. Menurut Suryabrata, seseorang dengan kepribadian ekstrovert lebih berorientasi ke dunia luar artinya cenderung bersikap positif terhadap lingkungan sekitarnya. Sosok ekstrovert biasanya mudah bergaul, menyukai hal-hal yang baru, ramah, dan terbuka. 
Berbeda dengan ekstrovert, sosok introvert sering kali dianggap sebagai orang yang pemalu padahal orang yang pemalu belum tentu dapat dikatakan berkepribadian introvert. Menurut Eysenck, seseorang dengan kepribadian introvert memiliki sifat tenang, suka merawat diri, bersikap hati-hati, pemikir, suka menyendiri, dan berorientasi pada tugas.
Dilihat dari berbagai ciri-ciri tersebut, saya cenderung berkepribadian introvert. Hal lainnya yang menunjukkan kecenderungan tersebut adalah ketika bertemu dengan orang baru, saya tidak akan memulai percakapan terlebih dahulu dengannya apabila orang tersebut tidak memulainya. Jadi, saya tidak akan berbicara jika tidak ditanya.
Menyadari bahwa saya merupakan sosok introvert, saya mulai mengikuti kegiatan organisasi sejak duduk di bangku SMA. Hal ini saya lakukan karena mendapatkan suatu pengalaman dari kakak kelas saya bahwa ia merupakan sosok introvert tetapi ia mampu berbicara dengan baik di depan umum setelah ia berorganisasi. Meskipun demikian, sisi introvertnya tetap ada dalam dirinya tetapi kadarnya berkurang.  Setelah mencoba ikut berorganisasi, saya pun merasakan hal yang sama bahwa saya sedikit lebih berani berbicara di depan orang banyak.

Singkat cerita, saya pun lulus SMA dan ingin lanjut ke Perguruan Tinggi. Sebelum melanjutkan ke Perguruan Tinggi, saya merasa bimbang dalam memilih jurusan yang ingin saya pilih yaitu PGSD. Mengapa demikian? Karena saya takut nanti tidak mampu menjadi pendidik yang baik ke depannya karena saya harus berhadapan dengan anak-anak usia SD yang membutuhkan sosok pendidik yang cenderung ekstrovert. Selain itu, kebanyakan orang mengganggap bahwa sosok introvert itu aneh, sulit beradaptasi dengan hal yang baru, sangat berhati-hati, penuh pertimbangan, dan lainnya. Hal tersebut tentu saja membuat saya minder dan bingung. Dengan melakukan beberapa pertimbangan dengan orang tua, akhirnya saya memutuskan untuk tetap memilih jurusan PGSD.
Setelah memasuki jurusan PGSD di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan menjalani kuliah sampai semester 5 ini, saya diberikan tugas oleh salah satu dosen untuk melaksanakan praktik mengajar di SD. Praktik mengajar tersebut saya laksanakan di kelas 2 di SDN Kampung Melayu 01 Pagi selama 4 kali. Mengapa saya memilih kelas rendah? Karena pada mata kuliah yang lain saya diwajibkan melaksanakan praktik mengajar di SD kelas tinggi sehingga pada mata kuliah ini saya memilih melaksanakan praktik mengajar di SD kelas rendah agar saya memiliki pengalaman bagaimana rasanya mengajar di kelas rendah dan di kelas tinggi.
Pada kali pertama mengajar, saya merasa deg-degan sekali karena saya akan menjadi pusat perhatian selama proses pembelajaran tetapi saya berusaha untuk tetap tenang dan mengontrol diri saya. Pada pertemuan berikutnya sampai pertemuan terakhir, saya mulai terbiasa mengajar siswa di kelas 2 tersebut. Saya mulai hafal nama-nama mereka, sifatnya, hobinya, kelebihannya serta kekurangannya. Meskipun cenderung introvert, saya mencoba membuka diri saya dalam praktir mengajar tersebut. Saya memberanikan diri untuk berbicara di depan kelas, berbaur dengan siswa, mengajak siswa mengobrol ketika istirahat, bersikap tenang, dan membimbing siswa saat belajar.
Selama melaksanakan praktik mengajar, berbagai macam hal saya hadapi di kelas 2. Ada siswa yang bertengkar saat jam pelajaran maupun istirahat, ada yang saling mengejek temannya, ada yang jatuh sampai kakinya luka dan berdarah, ada yang pusing, ada yang mimisan, ada yang hobinya selalu bernyanyi saat belajar, ada yang suka berjalan-jalan saat belajar, ada yang membuat temannya menangis, ada beberapa siswa yang menggambar di papan tulis sampai tinta spidolnya hampir habis, ada yang selalu bertanya berulang kali padahal saya sudah menjelaskan, ada yang berebutan maju ke depan kelas ketika saya meminta mereka membaca nyaring di depan kelas, dan ada pula yang sangat pendiam serta tidak mau menulis.

Semua hal yang terjadi selama praktik mengajar tersebut di luar ekspektasi saya. Contohnya, beberapa siswa berebutan maju ke depan kelas ketika saya meminta mereka membaca nyaring di depan kelas. Pada praktik mengajar di hari pertama, yang bersedia membaca nyaring di depan kelas sebanyak 4 siswa. Kemudian pada pertemuan berikutnya, saya kira jumlahnya tetap sama ternyata tidak. Siswa yang bersedia bertambah jumlahnya dan hampir semuanya ingin membaca nyaring di depan kelas. Saya sangat senang karena mereka antusias saat belajar. Ketika menghadapi siswa yang berebutan maju ke depan kelas, saya mengkondisikan siswa agar tertib kembali dan memilih siapa yang ingin membaca di depan kelas dengan mengacungkan tangan dengan cepat kemudian saya memilih lima orang dari mereka untuk membaca ke depan kelas. Lucunya, ketika disuruh mulai untuk membaca, mereka malah bergeser-geser sampai ke pintu kelas karena tidak mau baca pertama. Untuk siswa yang lainnya, saya bimbing mereka untuk membaca nyaring juga secara bersamaan dengan tetap duduk di bangku masing-masing. Hal ini saya lakukan sebagai upaya menghargai keaktifan mereka agar mereka tetap mempunyai semangat yang tinggi untuk belajar, dalam hal ini terutama untuk membaca.
Contoh yang lainnya adalah ada siswa yang sangat pendiam dan ia tidak mau menulis, tetapi ia memperhatikan saya ketika sedang mengajar. Saya mencoba mendekati dan membujuknya tetapi ia tetap tidak mau menulis. Pada pertemuan pertama, saya biarkan dahulu dan berpikir mungkin saya masih asing baginya sehingga ia belum mau dibimbing oleh saya. Kemudian pada pertemuan kedua ternyata ia juga tetap melakukan hal yang sama. Saya merasa bingung akhirnya saya bertanya dengan wali kelasnya yaitu Ibu Zulaiha dan beliau mengatakan bahwa siswa tersebut memang pendiam sekali dan kadang tidak mau menulis sehingga ia harus selalu didekati dan dibujuk dengan baik. Akhirnya pada pertemuan ketiga dan keempat, saya mengikuti saran dari Ibu Zulaiha. Ketika sedang istirahat, siswa tersebut duduk di dalam kelas dan memakan bekal yang ia bawa dari rumah. Saya pun menghampirinya kemudian mengajaknya mengobrol. Meskipun ia hanya menjawab dengan singkat atau anggukkan kepala saja, saya tetap berusaha mendekatinya. Akhirnya ketika belajar kembali dilanjutkan, ia mau menulis meskipun dengan waktu yang lama. Tetapi saya sangat senang karena ia akhirnya mau menulis.
Charles Schwaab mengatakan bahwa asset yang paling besar dari seorang guru adalah membangkitkan antusiasme pada siswa. Cara untuk membangkitkan antusiasme tersebut adalah dengan memberikan penghargaan yang tulus kepada siswa. Siswa dapat membedakan antara perlakuan yang tulus dan tidak tulus. Oleh karena itu, berikan penghargaan yang tulus kepada siswa dalam proses pembelajaran maka kita sebagai seorang pendidik akan dihargai oleh siswa.
Setelah praktik mengajar selesai dilaksanakan, saya mendapat pengalaman yang belum pernah saya rasakan sendiri sebelumnya. Saya menjadi paham bahwa jadi guru itu sangat sulit, harus sabar, harus mampu menangani segala hal yang terjadi kelas, harus mampu mengontrol keaktifan siswa, mampu menangani ketidakaktifan siswa, dan yang paling penting adalah harus mampu mencintai keunikan mereka masing-masing agar mengajar menjadi hal yang menyenangkan.
Selain itu, saya juga mendapatkan pengalaman bahwa mengajar itu juga membutuhkan volume suara yang besar dan saya harus menjaga kestabilan suara agar suara saya tidak habis sampai pembelajaran selesai. Ini merupakan kali pertamanya saya merasakan bagaimana rasanya suara habis karena selama ini saya belum pernah merasakannya.
Setelah praktik mengajar tersebut, saya juga paham bahwa sosok introvert juga mampu mendidik siswa SD. Hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya di sebuah SD juga menunjukkan bahwa  14 orang guru dengan kepribadian introvert mampu mendidik dengan baik seperti 31 orang guru lainnya dengan kepribadian ekstrovert.

Dengan demikian, mendidik bukan tergantung bagaimana tipe kepribadian yang kita miliki tetapi tergantung dari bagaimana cara kita mengembangkan kepribadian yang kita miliki agar mampu mendidik dengan hati sehingga permasalahan apapun yang dihadapi di kelas dapat diselesaikan dengan perasaan yang senang tanpa merasa terbebani. Saya juga berterima kasih kepada dosen yang telah memberikan tugas ini karena saya memperoleh banyak pengalaman mengajar yang sangat berharga, membuat saya percaya diri, dan lebih mencintai dunia pendidikan.
 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang