Senin, 09 Januari 2017

Manusia dan Pendidikan


Filsafat menurut Immanuel Kant adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang di dalamnya tercakup empat persoalan yaitu (1) Apakah yang dapat kita ketahui?; (2) Apakah yang seharusnya kita kerjakan?; (3) Sampai dimanakah harapan kita?; dan (4) Apakah yang dinamakan manusia?
            Keempat pertanyaan di atas merupakan  pemikiran kritisisme. Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. Perkembangan ilmu Immanuel Kant mencoba untuk menjebatani pandangan Rasionalisme dan Empirisisme, yaitu aliran filsafat Kritisisme adalah sebuah teori pengetahuan yang berusaha untuk mempersatukan kedua macam unsur dari filsafat Rasionalisme dan disini kekuatan kritis filsafat sangatlah penting, karena ia bisa menghindari kemungkinan ilmu pengetahuan menjadi sebuah dogma. Filsafat ini memulai pelajarannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda dengan corak filsafat modern sebelumnya yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak. Isi utama dari kritisisme adalah gagasan Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika dan estetika, dimana gagasan ini muncul karena keempat persoalan di atas.

            Persoalan pertama menunjukkan adanya pengakuan bahwa adanya batasan-batasan terhadap sesuatu yang harus diketahui oleh manusia. Uraian mengenai batas pengetahuan ini menghasilkan teori kritik Akal Murni (Critique of Pure Reason). Hal ini berkaitan dengan cabang ilmu pengetahuan yaitu metafisika. Metafisika adalah cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia.
            Persoalan kedua menunjukkan adanya pengakuan akan adanya yang lain yang membatasi aktivitas manusiawi kita, keberadaan yang lain itulah yang kemudian menekankan apa yang harus kita lakukan, bukannya apa yang ingin kita lakukan. Keinginan diri selalu dibatasi kemestian dari yang lain, karena itu keinginan tergantikan oleh keharusan. Hal ini berkaitan dengan etika manusia. Etika berasal dari bahasa yunani kuno yakni “ethikos” artinya “timbul dari kebiasaan”. Etika adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenal standar dan penilaian moral. Adapun batas pengetahuan mengenai etika ini menghasilkan teori batas tindakan manusia menghasilkan Kritik Akal Praktis (Critique of Practical Reason).
            Persoalan ketiga menunjukkan kesadaran Immanuel Kant bahwa tidak semua hal bisa diketahui, selalu ada yang terlepas dari daya pengetahuan kita. Dari kesadaran tersebut memunculkan sesuatu yang harus diyakini atau keyakinan, yaitu agama. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta agama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.adapun batas pengetahuan mengenai batas akan harapan manusia menghasilkan teori kritik Penimbangan (Critique of Judgment).
Sedangkan persoalan keempat menunjukkan adanya kesadaran untuk mengetahui fungsi dan kedudukan manusia di muka bumi. Ini berkaitan dengan cabang ilmu pengetahuan yaitu antropologi. Antropologi adalah ilmu tentang manusia, masa lalu dan kini, yang menggambarkan manusia melalui pengetahuan ilmu sosial dan ilmu hayati (alam), dan juga humaniora. Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca:anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti "wacana" (dalam pengertian "bernalar", "berakal") atau secara etimologis antropologi berarti ilmu yang mempelajari manusia. Antropologi bertujuan untuk lebih memahami dan mengapresiasi manusia sebagai spesies homo sapiens dan makhluk sosial dalam kerangka kerja yang interdisipliner dan komprehensif.
            Dari keempat persoalan tersebut, saya dapat memahami bahwa hal pertama yang harus dimiliki oleh manusia adalah pengetahuan. Mengapa demikian? Karena dengan pengetahuan maka kita akan tahu keberadaan suatu hal. Pengetahuan akan membawa pola pikir manusia ke depan dan berdasarkan dengan realita atau kenyataan yang ada. Jika manusia dapat mengetahui sesuatu, maka ia akan dapat membedakan mana hal yang benar dan tidak benar, baik menurut pandangannya maupun ketentuan yang ada. Tetapi tidak semua hal dapat diketahui oleh manusia, karena ada batasan-batasannya.
            Setelah manusia dapat memiliki pengetahuan, maka ia harus tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Terkadang manusia lupa bahwa seharusnya ia melakukan apa yang harus ia lakukan bukan apa yang ia inginkan. Kebanyakan dari manusia lebih banyak melakukan apa yang ia inginkan saja, tanpa memperdulikan apa yang seharusnya ia lakukan. Manusia akan tahu apa yang seharusnya dilakukan apabila ia memiliki etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan istilah “imperatif kategoris”.
            Apabila manusia telah memiliki pengetahuan dan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, maka manusia akan memiliki sebuah harapan terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dengan harapan tersebut, manusia dapat mempertimbangkan sampai dimana harapan yang dimilikinya, apakah harapannya telah tercapai atau belum tercapai. Apa yang diharapkan oleh manusia ditentukan oleh akal budinya. Dari suatu harapan akan memunculkan sesuatu yang harus diyakini atau keyakinan, yaitu agama. Selaain itu, dengan harapan maka manusia akan tahu apa tujuan yang akan dicapainya.
            Menurut saya, manusia adalah tujuan. Manusialah aktor yang mengkonstruksi dunianya sendiri. Seorang manusia memiliki pengetahuan dimana pengetahuannya itu dapat menjadikan manusia tersebut tahu apa yang harus ia lakukan sehingga ia memiliki suatu harapan dan keyakinan serta tahu apa tujuan dirinya.


            Dari keempat persoalan tersebut, saya menjadi tahu siapa diri saya. Saya adalah manusia, karena apa yang saya ketahui, apa yang saya lakukan, dan apa yang saya harapkan semata-mata bertujuan pada diri saya sendiri. Saya belajar sampai saat ini agar saya memiliki pengetahuan. Pengetahuan saya dari tahun ke tahun akan bertambah karena semakin tinggi jenjang pendidikan yang saya tempuh. Dengan pengetahuan yang saya miliki saat ini, saya menjadi tahu apa yang harus saya lakukan untuk diri saya ke depannya. Bahkan dengan pengetahuan, saya dapat mengenali diri saya sendiri karena tahu apa kelebihan dan kekurangan saya.
            Kelebihan saya adalah menyelesaikan sesuatu secara detail dan tepat waktu, jika saya melakukan sesuatu maka saya ingin hasil yang sempurna, dan saya menyukai sesuatu hal yang berhubungan dengan angka. Sedangkan kelemahan saya adalah saya tidak menyukai hal yang mendadak, sensitif, dan tidak bisa langsung marah (lebih banyak memendam perasaan).
            Dari kelebihan dan kekurangan saya, saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk diri saya dengan kelebihan dan kekurangan tersebut. Dan saya juga dapat menilai sejauh mana kemampuan saya dalam melakukan sesuatu sehingga saya memiliki sebuah harapan ke depannya. Berdasarkan hadits,”Siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya”(H.R Bukhari Muslim), dengan mengenali diri saya, maka saya akan dapat mengenal Tuhan saya sehingga ada suatu keyakinan dari diri saya dan harapan yang saya miliki didasarkan atas keyakinan tersebut.
            Filsafat terdiri dari beberapa jenis, diantaranya filsafat pendidikan, filsafat psikologi, filsafat hukum, filsafat ilmu, dan sebagainya. Filsafat pendidikan merupakan ilmu filsafat yang mempelajari hakikat pelaksanaan pendidikan. Filsafat pendidikan berupaya untuk memikirkan permasalahan pendidikan. Salah satu yang dikritisi secara konkret adalah relasi antara pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran. Filsafat pendidikan berusaha menjawab pertanyaan mengenai kebijakan pendidikan, sumber daya manusia, teori kurikulum dan pembelajaran serta aspek-aspek pendidikan yang lain.
            Filsafat dan pendidikan adalah dua hal yang tidak terpisahkan, baik dilihat dari proses, jalan, serta tujuannya. Hal ini sangat terpahami karena pendidikan pada hakikatnya merupakan hasil spekulasi filsafat, terutama sekali filsafat nilai, yaitu terkait dengan ketidakmampuan manusia di dalam menghindari fitrahnya sebagai diri yang selalu mendamba makna-kesamaan di dalam proses, ruang etika, dan ruang pragmatis.
Di satu sisi, manusia selalu menjadi satu-satunya primate yang selalu menyerukan kebaikan, cinta, dan kebenaran. Namun, bersamaan dengan itu, manusia pula satu-satunya makhluk yang dapat membunuh diri dan sesamanya dengan begitu tanpa alasan sama sekali, selain hanya sebuah kesenangan.
Dalam ruang inilah pendidikan bagi hidup manusia menjadi sesuatu hal yang penting untuk membawanya pada hidup yang bermakna. Dengan pendidikan, manusia akan mampu menjalani hidupnya dengan baik dan benar. Dengan demikian, ia bias tertawa, menangis, bicara, dan diam mengambil ukuran-ukuran yang tepat. Ini sangat berbeda dengan banyak diri yang tidak terdidik. Hubungan ini menurut pakar merupakan ilmu yang paling tertua dibandingkan dengan ilmu pengetahuan lainnya. Oleh karena itu, mereka menyebut bahwa filsafat adalah induk semua ilmu-ilmu pengetahuan di muka bumi ini.
Sementara itu, filsafat mengakui bahwa menurut substansinya yang ada itu tunggal, dan berada di tingkat abstrak, bersifat mutlak, serta tidak mengalami perubahan. Sedangkan, menurut eksistensinya, yang ada itu plural, berada di tingkat konkret, bersifat relative, dan mengalami perubahan terus-menerus. Jadi, segala sesuatu yang ada di dunia pengalaman itu bersal mula dari satu substansi. Persoalan yang muncul adalah bagaimana menyikapi segala pluralitas ini agar tidak terjadi benturan antara satu dan lainnya? Misalnya, pluralitas jenis, sifat, dan bentuk manusia, binatang, tumbuhan, dan badan-badan benda berasal dari satu substansi. Apakah yang seharusnya dilakukan agar antara manusia satu dan lainnya tidak saling berbenturan kepentingan sehingga dapat mengancam keteraturan social dan ketertiban dunia?
Jawaban terhadap persoalan di atas adalah manusia harus bersikap dan berperilaku adil terhadap diri sendiri, masyarakat, dan terhadap alam. Agar dapat berbuat demikian, manusia harus berusaha mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai keberadaan segala sesuatu yang ada ini, dari mana asalnya, bagaimana keberadaannya, dan apakah yang menjadi tujuan akhir keberadaan tersebut. Untuk itu, manusia harus mendidik diri dan sesamanya secara terus-menerus.
Bertolak dari pemikiran filsafat tersebutlah pendidikan muncul dan memulai sesuatu. Manusia mulai mencoba mendidika diri dan sesamanya dengan sasaran menumbuhkan kesadaran terhadap eksistensi kehidupan ini. Dalam hal ini, kegiatan pendidikan ditekankan pada materi yang berisi pengetahuan umum berupa wawasan asal mula, eksistensi, dan tujuan kehidupan. Kesadaran terhadap asal mula dan tujuan kehidupan menjadi landasan bagi perilaku sehari-hari sehingga semua kegiatan eksistensi kehidupan ini selalu bergerak teratur menuju satu titik tujuan akhir.
Tanpa filsafat,  pendidikan tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak tahu apakah yang harus dikerjakan. Sebaliknya, tanpa pendidikan, filsafat tetap berada di dalam dunia utopianya. Oleh karena itulah, seorang guru harus memahami dan mendalami filsafat, khususnya filsafat pendidikan. Malalui filsafat pendidikan, guru memahami hakikat pendidikan dan pendidikan dapat dikembangkan melalui falsafah ontologi, epistimologi, dan aksiologi.
Pengertian filsafat pendidikan dan bagaimana penerapannya serta apa dampak dari pendidikan harus diketahui oleh guru karena pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan bagi setiap manusia, termasuk guru di dalamnya. Jadi, seorang guru harus mempelajari filsafat pendidikan karena dengan memahami dan memaknai filsafat itu, akan dapat memberikan wawasan dan pemikiran yang luas terhadap makna pendidikan. Filsafat pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan filsafat lainnya, misalnya filsafat hukum, filsafat agama, filsafat kebudayaan, dan filsafat lainnya.
Dalam pengertian tersebut, filsafat tidak lain bertujuan membawa manusia mengalami hidup yang dimilikinya dengan pandangan, pengalaman, pengetahuan, serta penghayatan yang baik dan benar. Dengan pemahaman tersebut, manusia mampu menyadari hidup yang dimilikinya dengan benar tanpa adanya.
Di sini, filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam. Maka, dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif karena kebenaran ilmu yang ditinjau dari segi yang dapat diamati oleh manusia saja. Sesungguhnya, isi alam yang dapat diamati hanya sebagian kecil saja, diibaratkan mengamati gunung es, hanya mampu melihat ang di atas permukaan laut saja. Sementara, filsafat mencoba menyelami sampai ke dasar gunung es itu untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis.
Sedangkan, pendidikan merupakan salah satu bidang ilmu, sama halnya dengan ilmu-ilmu lain. Pendidikan lahir dari induknya, yaitu filsafat. Sejalan dengan proses perkembangan ilmu, ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari induknya. Pada awalnya, pendidikan berada bersama dengan filsafat sebab filsafat tidak pernah bias mebebaskan diri dengan pembentukan manusia. Filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia.
Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani ke arah kedewasaan. Secara garis besar, pengertian pendidikan dapat dibagi menjadi tiga. Pertama, pendidikan; kedua, teori umum pendidikan; dan ketiga, ilmu pendidikan.
Dalam pengertian pertama, pendidikan pada umumnya mendidik yang dilakukan oleh masyarakat umum. Pendidikan seperti ini sudah ada sejak manusia ada di muka bumi ini. Pada zaman purba, kebanyakan manusia memerlukan anak-anaknya secara insting atau naluri, suatu sifat pembawaan, demi kelangsungan hidup keturunannya. Tindakan yang termasuk insting manusia antara lain sikap melindungi anak, rasa cinta terhadap anak, bayi menangis, kemampuan menyusu air susu ibu, dan merasakan kehangatan dekapan ibu.
Pekerjaan mendidik mencakup banyak hal, yaitu segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia. Mulai dari perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, pikiran, perasaan, kemauan, sosial, sampai kepada perkembangan iman. Kegiatan mendidik bermaksud membuat manusia menjadi sempurna, membuat manusia meningkatkan hidupnya dari kehidupan alamiah menjadi berbudaya. Kegiatan mendidik adalah membudayakan manusia. Dalam pengertian kedua, pendidikan dalam teori umum, menurut John Dewey, “The general theory of education dan philosophy is the general theory of education.” Beliau tidak membedakan filsafat pendidikan dengan teori pendidikan atau filsafat pendidikan sama dengan teori pendidikan. Sebab itu, ia mengatakan pendidikan adalah teori umum pendidikan.
Konsep di atas bersumber dari filsafat pragmatis atau filsafat pendidikan progresif. Inti filsafat pragmatis yang berguna bagi manusia itulah yang benar, sedangkan inti filsafat pendidikan progresif mencari terus-menerus sesuatu yang paling berguna hidup dan kehidupan manusia. Dalam pengertian ketiga, ilmu pendidikan dibentuk oleh sejumlah cabang ilmu yang terkait satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan. Masing-masing cabang ilmu pendidikan dibentuk oleh sejumlah teori.

            Berdasarkan 4 persoalan menurut Immanuel Kant, visi dan misi seseorang atau suatu lembaga juga bisa termasuk filsafat. Visi dan misi dapat dikatakan filsafat karena visi dan misi merupakan hasil dari apa yang diketahui, apa yang harus dilakukan, dan apa yang diharapkan oleh manusia untuk mencapai tujuan baik untuk seseorang maupun suatu lembaga. Misalnya visi dan misi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa periode 2015-2019.
Visi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa periode 2015-2019 yakni terwujudnya universitas terbaik yang memiliki kemandirian, kreativitas, inovasi, unggul, dan kompetitif dalam bidang pendidikan, penelitian, serta pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam rangka pengabdian kepada masyarakat. Sedangkan misi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yakni meningkatkan kualitas, relevansi dan daya saing pendidikan, meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang inovatif berbasis kebutuhan nyata, dan meningkatkan daya dukung tata kelola perguruan tinggi yang baik (good university governance).
Maju mengandung pengertian terwujudnya kondisi Untirta yang mengalami pertumbuhan, peningkatan dan perubahan secara berkelanjutan dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat , daya dukung sumber daya dan manajemen serta kerjasama kemitraan.
Bermutu mengandung pengertian tercapainya kualitas layanan yang memberikan kepuasan kepada pelanggan, lulusan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang menguasai Iptek (hard skill) dan , mampu berkolaborasi dan membangun jejaring (networking) dan berkomunkasi atau soft skill menuju kemajuan bangsa, peradaban dan kesejahteraan umat manusia.
            Berdaya saing mengandung pengertian terwujudnya suatu dorongan pada diri pendidik (dosen, tenaga kependidikan dan lulusan untuk memenangkan suatu persaingan (kompetisi), lebih berprestasi, memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif, berupaya lebih baik dari yang lain, tahan menghadapi berbagai kondisi, hambatan dan tantangan serta mampu beradaptasi dengan lingkungan.
            Berkarakter mengandung arti tercapainya tenaga pendidik dan kependidikan serta lulusan universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang menguasai Iptek dengan menjunjung tinggi kejujuran, amanah, berwibawa, adil, religius dan akuntabel.
            Dalam mewujudkan misi Untirta perlu terbangun komunikasi kerja di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa lebih mengutamakan semangat gotong royong, kolegial, saling pengertian, saling menghargai dan saling menghormati, sebagai sebuah tim kerja yang menjunjung tinggi solidaritas dan soliditas. Hal ini meniscayakan seluruh komponen Untirta mulai dari level teratas sampai dengan level terbawah bersama-sama berkomitmen memberikan karya terbaiknya demi mewujudkan pelayanan terbaik dan prima kepada pemangku kepentingan.
Mungkin tidak banyak yang saya ketahui sampai saat ini hanya saja kadang-kadang saya mendapatkan sedikit pemahaman. Sedikitnya melalui pendidikan saya mampu mengetahui sebuah organisasi, sistem dalam kampus, proses belajar mengajar dalam kelas di perkuliahan, dan lain sebagainya. Akan tetapi mengingat sebuah perkembangan zaman yang semakin tinggi dan berkembangnya teknologi merasa miris akan hal yang semakin mudahnya sebuah pembantaian melalui sebuah teknologi yang berasiskan pendidikan.
            Menjadi yang terdidik biasanya mengamini apa yang dikatakan oleh pendidik bila belum timbul sebuah kesadaran, akan menjadi makanan empuk oleh kaum penindas di dalam pendidikan dimana pendidikan ini merupakan sarannya agar mampu mengubah pola piker yang menjadi satu dan satu titik yang mengatur.
             Jika melihat ke arah sebuah visi dan misi Untirta nampak jelas bahwa sebagian merupakan hal yang harus dilakukan seperti pengabdian pada masyarakat, penelitian dan lain-lain. Disamping itu pula sebenarnya banyaknya sebuah yang bertentangan akan visi dan misi untirta karena masih adanya sebuah tujuan yang belum tercapai maka harus benar-benar ditindak lanjuti untuk menuju sebuah perubahan yang ideal menurut kesepakatan bersama, dalam artian ideal dalam pandangan mahasiswa, dosen atau staf untirta dan masyarakat.
            Dalam hal pendidikan pengharapan selalu ada, bahkan di setiap detiknya pengharapan selalu terlintas dalam benak manusia. Kesadaran yang menjadikan manusia mampu untuk mengharap penuh akan apa yang telah ia lakukan dan yang akan di lakukan selanjutnya. Ketika dalam menjalani sebuah pendidikan harapan yang kian membesar akan kesuksesan, ilmu yang berkecukupan, dan pengalaman yang akan diraih untuk mampu membawa kepada pengabdian masyarakat dan menjalin suatu hubungan antara masyarakat dan lembaga untuk menghadapi masa yang serba pengetahuan. Dimana pengetahuan mampu membawa kearah yang lebih baik, dari segi moral maupun fisik yang dirasa, di lihat dan di harapkan.
            Tentu saja melihat dari visi dan misi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang mana lembaga pendidikan yang saya duduki sekarang terlihat mampu membawa sebuah pengharapan baru untuk menuju ke arah yang maju dan lebih baik  lagi, akan tetapi kadang apa yang diharapkan adakalanya tak sesuai, akan tetapi tidak lepas dari sebuah perjuangan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan. Disisi lain saya berharap mampu mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih luas beserta pengalaman yang jauh dari pendidikan yang sedang saya tempuh di perkuliahan ini, baik dalam ilmu dunia maupun ilmu agama. Untuk menopang saya ke depannya agar menjadi apa yang saya harapkan.
            
 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang