Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural,
yakni menerima universal yang abadi. Masalah nilai itu merupakan hal yang utama
dalam perenialisme, karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu
menerima universal yang abadi, khususnya tingkah laku manusia.
Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh
tokoh-tokohnya, sperti Plato, aristoteles dan Thomas Aquinas. Menurut Plato,
manusia secara kodrat memiliki btiga potensi yaitu nafsu, kemauan dan pikiran.
Dengan de4mikian jelaslah bahwa perenialisme itu menghendaki agar pendidikan disesuaikan
dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu, kemauan dan pikiran sebagaimana
yang dimiliki secara kodrat. Ide-ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh
aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan. Bagi Aristoteles
tujuan pendidikan adalah “kebahagiaan”. Untuk mencapai pendidikan itu, maka
aspek jasmani, emosi dan intelek harus dikembangkan secara seimbang.
Dapatlah disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak
dicapai oleh para ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik
dapat hidup bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri. Jadi dengan akalnya
dikembangkan maka dapat mempertinggi kemampuan akal pikirannya. Dari
prinsip-prinsip pendidikan perenialisme tersebut naka perkembangannya telah
mempengaruhi system pendidikan modern, sperti pembagian kurikulum untuk sekolah
dasar, menengah, perguruan tinggi dan pendidikan orang dewasa.
