Seperti disebut terdahulu bahwa filsafat
analitik muncu sebagai reaksi terhadap tradisi idealisme terutama dari kalanga
teologi yang mengagungkan metafisika. Para pengikut positivisme logis ingin
membersihkan diri dari metafisika. Mereka ingin memiliki bahasa yang dapat
merepresentasikan dunia nyata dalam bahasa ideal yang memang sesuai dengan
struktur logika dari realitas dunia ini. Para tokoh filsafat bahasa atau the ordinary languange philosophy
berkonsentrasi pada spek semantik bahasa seperti dikupas habis oleh
Wittgenstein dalam Tractatus Logico
Philosophicus (1921). Dia, seperti dalnya gurunya Russell, mengatakan bahwa
ungkapan bahasa metafisik adalah omong karena tidak menggambarkan realita.
Dalam buku itu ia kurang lebih mengatakan bahsa sebagai suatu himpunan besar
yang terdiri atas proposisi-proposisi atomis yang pada hakikatnya menggambarkan
realita atomis. Dengan begitu, sebuah proposisi adalah sebuah fungsi kebenaran
(truth function) dari
proposisi-proposisi elementer. Makna sebuah proposisi itu adalah kenyataannya
yang sesuai dengan fakta atau keberadaan suatu peristiwa (Kaelan 1998: 144).
Ada
tiga kritik tajam dari Wittgenstein terhadap filsafat sebagai berikut:
·
Kekacauan bahasa
filsafat timbul karena penggunaan istilah atau ungkapan dalam bahasa filsafat
yang tidak sesuai dengan aturan permaian bahasa.
·
Adanya kecenderungan
untuk mencari pengertian yang bersifat umum dengan merangkum berbagai gejala
yang diperkirakan mencerminkan sifat keumumannya. Kelemahan ini disebut dengan
istilah craving for generality.
·
Penyamaran atau
pengertian terselubung melalui pengajuan istilah yang tidak dapat dipahami
misalnya “keberadaan”, “ketiadaan”, dan lain sebagainya. Intinya adalam
berwacana filsafat dan sesungguhnya dalam berbahasa sehari-hari pun kita harus menghindari
ambiguitas dan penyamaran.
Berdasarkan atas ketiga hal diatas, ia
menyatakan dua tugas filsafat, yaitu: (1) secara penyembuhan atau therapheutics dengan cara menghilangkan
kekacauan-kekacauan yang terjadi dalam bahsa filsafat, dan (2) secara metodis,
yaitu berfilsafat dengan menempuh jalan berikut ini.
·
Meletakkan landasan
filsafat pada penggunaan bahasa sehari-hari dengan mengikuti aturan permainan
bahasa.
·
Untuk mengatasi
kekacauan itu, kita harus menyusun kembali apa yang telah kita ketahui bukannya
dengan melalui keterangan baru.
·
Meletakkan metode
analisis bahasa dalam posisi yang netral, yakni tidak turut campur dalam
memberikan interpetasi filosofis atau penafsiran realitas.