Sabtu, 03 Desember 2016

Filsafat Bahasa Biasa


Seperti disebut terdahulu bahwa filsafat analitik muncu sebagai reaksi terhadap tradisi idealisme terutama dari kalanga teologi yang mengagungkan metafisika. Para pengikut positivisme logis ingin membersihkan diri dari metafisika. Mereka ingin memiliki bahasa yang dapat merepresentasikan dunia nyata dalam bahasa ideal yang memang sesuai dengan struktur logika dari realitas dunia ini. Para tokoh filsafat bahasa atau the ordinary languange philosophy berkonsentrasi pada spek semantik bahasa seperti dikupas habis oleh Wittgenstein dalam Tractatus Logico Philosophicus (1921). Dia, seperti dalnya gurunya Russell, mengatakan bahwa ungkapan bahasa metafisik adalah omong karena tidak menggambarkan realita. Dalam buku itu ia kurang lebih mengatakan bahsa sebagai suatu himpunan besar yang terdiri atas proposisi-proposisi atomis yang pada hakikatnya menggambarkan realita atomis. Dengan begitu, sebuah proposisi adalah sebuah fungsi kebenaran (truth function) dari proposisi-proposisi elementer. Makna sebuah proposisi itu adalah kenyataannya yang sesuai dengan fakta atau keberadaan suatu peristiwa (Kaelan 1998: 144).

            Ada tiga kritik tajam dari Wittgenstein terhadap filsafat sebagai berikut:
·         Kekacauan bahasa filsafat timbul karena penggunaan istilah atau ungkapan dalam bahasa filsafat yang tidak sesuai dengan aturan permaian bahasa.
·         Adanya kecenderungan untuk mencari pengertian yang bersifat umum dengan merangkum berbagai gejala yang diperkirakan mencerminkan sifat keumumannya. Kelemahan ini disebut dengan istilah craving for generality.
·         Penyamaran atau pengertian terselubung melalui pengajuan istilah yang tidak dapat dipahami misalnya “keberadaan”, “ketiadaan”, dan lain sebagainya. Intinya adalam berwacana filsafat dan sesungguhnya dalam berbahasa sehari-hari pun kita harus menghindari ambiguitas dan penyamaran.
Berdasarkan atas ketiga hal diatas, ia menyatakan dua tugas filsafat, yaitu: (1) secara penyembuhan atau therapheutics dengan cara menghilangkan kekacauan-kekacauan yang terjadi dalam bahsa filsafat, dan (2) secara metodis, yaitu berfilsafat dengan menempuh jalan berikut ini.
·         Meletakkan landasan filsafat pada penggunaan bahasa sehari-hari dengan mengikuti aturan permainan bahasa.
·         Untuk mengatasi kekacauan itu, kita harus menyusun kembali apa yang telah kita ketahui bukannya dengan melalui keterangan baru.

·         Meletakkan metode analisis bahasa dalam posisi yang netral, yakni tidak turut campur dalam memberikan interpetasi filosofis atau penafsiran realitas.
 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang