Sabtu, 03 Desember 2016

Atomisme Logis


Logical atomism mulai berkembang pada awal abad ke XX di Inggris sebagai reaksi terhadap aliran idealisme yang menguasai pemikiran saat itu. Tokoh terkenal faham idealisme yang menguasai pemikiran saat itu. Tokoh terkenal faham idealisme adalah F.H. Bradley. Inti aliran idealisme adalah bahwa realitas itu terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, jiwa atau minda (mind) dan bukannya benda material. Ini kebalikan dari paham materialisme bahwa materi itu adalah real dan minda sebagai fenomena penyerta saja. Ini bertentangan dengan metode empirisme yang mengandalkan ide-ide bukannya putusan atau judgments atau keterangan-keterangan sebagaimana dinyatakan dalam proposisi-proposisi, yakni pernyataan-pernyataan tentang dunia ini. Pandangan Bradley ini mempengaruhi Russell dengan formulasi logika atomisme, bahwasanya realitas terwujud dalam ungkapan bahasa yang merupakan proposisi-proposisi, bukan atas ide-ide atau isi pikiran kita. Nama-nama besar dalam aliran ini antara lain G.E.Moore (1873-1958) sebagai perintis, Bertrand Russell (1872-1970) sebagai tokoh utama, dan Ludwig Wittgenstein (1889-1951). Berikut ini adalah beberapa pemikiran inti dari aliran ini.

·         Logika adalah hal yang paling mendasar di dalam filsafat. Logikalah yang harus mewarnai setiap mazhab filsafat, bukan metafisik.filsafat Russell disebutnya atomisme logis, yang sesungguhnya telah dikembangkan oleh Wittgenstein dan terlihat adanya pengaruh David Hume seperti dapat dibaca dalam karangannya An Inquiry Concerning Human Understanding. Dikatakannya bahwa semua ide yang kompleks itu terdiri atas ide-ide sederhana atau atomis (atomic ideas), yang harus dianalisis secara psikologis. Russell menolak konsep analisis psikologisnya, tetapi lebih berkonsentrasi pada analisis proposisi-proposisi.
·         Formula logika bahasa tidak sama dengan formulasi struktur bahasa. Russell dan Moore sependapat bahwa tugas filsuf adalah memberikan analisis proposisi-proposisi, tetapi keduanya berbeda dalam hal bahasa yang digunakan. Moore mendasarkan analisisnya pada akal sehat sedangkan Russell mencari kebenaran itu melalui bahasa berdasarkan formulasi logika. Bahasa sehari-hari tidak cukup canggih untuk manganalisis filsafat karena memperlihatkan kekaburan, makna ganda, dan tergantung pada konteks. Jadi pertanyaan kita selanjutnya: bagaimanakah bahasa yang mampu mengungkapkan suatu realitas fakta secara akurat? Russell mengkritik bahasa biasa sebagai berikut.
We ought not in our attempts at serious thinking, to be content with ordinary languange, with its ambiguities and its abominable syntax. I remain convinced that obstinate addiction to ordinary languange in our private thoughts is one of the main obstacles to progress in philosophy (Charlesworth 1959: 68).
            Jadi memang harus dibedakan bahasa sehari-hari dengan bahasa ideal untuk mewacanakan filsafat. Mari kita bandingkan contoh popular dalam wacana tata bahasa transformasi berikut ini. (1) John is easy to please dan (2) John is eager to please. Kedua kalimat ini memiliki struktur gramatikal yang sama, tetapi memiliki struktur logika yang berbda. Dengan kata lain, struktur gramatikal belum tentu menentukan struktur logis. Kalimat (1) berarti mudah bagi seseorang untuk menyenangkan John, sedangkan kalimat (2) berarti bahwa John ingin menyenangkan orang lain. Demikian pula dengan dua kalimat ini. (3) Lions are yellow dan (4) Lions are real. Dalam kalimat (3) dan (4) Lions adalah (S)ubjek sedangkan yellow dan real sama-sama (P)redikat. Secara gramatikal strukturnya sama, tapi secara logis tidak sama. Ini semua berbeda dengan dua kalimat berikut ini. (5) Sokrates adalah filsuf dan (6) Aristoteles adalah filsof. Keduanya memiliki struktur gramatika dan logika yang sama. Keduanya adalah filsof. Itu adalah fakta. Russell menjelaskan bahwa “Semua unsur yang termasuk ke dalam suatu himpunan tidak dengan sendirinya merupakan sutu himpunan itu sendiri.” Berdasarkan proposisi (5) dan (6) di atas, tidaklah benar disimpulkan bahwa “Filsuf adalah anggota dari filsuf.” Kelas filsuf tingkatannya lebih lebih tinggi dari filsuf itu sendiri (Sokrates dan Aristoteles). Dengan begitu, kita dapat melihat kontradiksi dalam kalimat-kalimat berikut ini: (7) Semua peraturan mengandung pengecualian, (pernyataan ini pun sebuah peraturan), oleh karena itu mengandung pengecualian dan (8) Setiap pernyataan ilmiah yang tidak didasarkan pada verifikasi itu hanyalah omong kosong (ini pun suatu pernyataan ilmiah), jadi termasuk omong kosong karena tidak didasarkan pada verifikasi apa pun (Kaelan 1998: 98).
·         Hakikat realitas dunia seyogianya dianalisis melalui analisis logis. Agar ilmiah, filsafat mesti mengandalkan analisis logis. Analisis logis berdasarkan pada kebenaran apriori yang sifatnya universal dan bersumber pada rasio. Kebalikan analisis logis adalah sintesis logis, yaknimerupakan metode untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan empiris atau pengalaman indrawi yang bersifat aposteriori. Ilmu pengetahuan terdiri atas pernyataan-pernyataan yang merujuk pada realitas dunia. Dengan kata lain, realitas dunia terungkap lewat bahasa sehingga antara bahasa dan realitas dunia terdapat kesesuaian bentuk atau isomorfisme.

·         Dunia ini terdiri atas fakta-fakta yang terlukiskan lewat proposisi-proposisi. Proposisi-proposisi ini merupkan simbol dan bukan merupakan dunia. Ingat bahwa bahasa adalah simbol. Proposisi yang paling sederhana disebut proposisiatomis yang merupakan bahan untuk membangun proposisi majemuk seperti dengan menggunakan kata sambung atau, dan, dan sebaginya. Kalimat “Sokrates adalah seorang warga Athena yang bijaksana” adalah sebuah proposisi majemuk yang terdiri atas dua proposisi atomis, yaitu: (1) Sokrates adalah warga Athena, dan (2) Sokrates adalah seorang yang bijaksana. Keduanya ini digabungkan dengan kata yang. Selain fakta atomis ada juga dikenal fakta umum, yaitu yang kebenarannya sudah dikenal secara umum seperti proposisi “Semua orang akan mati.”
 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang