Logical
atomism mulai berkembang pada awal abad ke XX
di Inggris sebagai reaksi terhadap aliran idealisme yang menguasai pemikiran
saat itu. Tokoh terkenal faham idealisme yang menguasai pemikiran saat itu.
Tokoh terkenal faham idealisme adalah F.H. Bradley. Inti aliran idealisme
adalah bahwa realitas itu terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, jiwa atau
minda (mind) dan bukannya benda
material. Ini kebalikan dari paham materialisme bahwa materi itu adalah real
dan minda sebagai fenomena penyerta saja. Ini bertentangan dengan metode
empirisme yang mengandalkan ide-ide bukannya putusan atau judgments atau keterangan-keterangan sebagaimana dinyatakan dalam
proposisi-proposisi, yakni pernyataan-pernyataan tentang dunia ini. Pandangan
Bradley ini mempengaruhi Russell dengan formulasi logika atomisme, bahwasanya
realitas terwujud dalam ungkapan bahasa yang merupakan proposisi-proposisi,
bukan atas ide-ide atau isi pikiran kita. Nama-nama besar dalam aliran ini
antara lain G.E.Moore (1873-1958) sebagai perintis, Bertrand Russell (1872-1970)
sebagai tokoh utama, dan Ludwig Wittgenstein (1889-1951). Berikut ini adalah
beberapa pemikiran inti dari aliran ini.
·
Logika adalah hal yang
paling mendasar di dalam filsafat. Logikalah yang harus mewarnai setiap mazhab
filsafat, bukan metafisik.filsafat Russell disebutnya atomisme logis, yang
sesungguhnya telah dikembangkan oleh Wittgenstein dan terlihat adanya pengaruh
David Hume seperti dapat dibaca dalam karangannya An Inquiry Concerning Human Understanding. Dikatakannya bahwa semua
ide yang kompleks itu terdiri atas ide-ide sederhana atau atomis (atomic ideas), yang harus dianalisis
secara psikologis. Russell menolak konsep analisis psikologisnya, tetapi lebih
berkonsentrasi pada analisis proposisi-proposisi.
·
Formula logika bahasa
tidak sama dengan formulasi struktur bahasa. Russell dan Moore sependapat bahwa
tugas filsuf adalah memberikan analisis proposisi-proposisi, tetapi keduanya
berbeda dalam hal bahasa yang digunakan. Moore mendasarkan analisisnya pada
akal sehat sedangkan Russell mencari kebenaran itu melalui bahasa berdasarkan
formulasi logika. Bahasa sehari-hari tidak cukup canggih untuk manganalisis
filsafat karena memperlihatkan kekaburan, makna ganda, dan tergantung pada
konteks. Jadi pertanyaan kita selanjutnya: bagaimanakah bahasa yang mampu
mengungkapkan suatu realitas fakta secara akurat? Russell mengkritik bahasa
biasa sebagai berikut.
We
ought not in our attempts at serious thinking, to be content with ordinary
languange, with its ambiguities and its abominable syntax. I remain convinced
that obstinate addiction to ordinary languange in our private thoughts is one
of the main obstacles to progress in philosophy (Charlesworth
1959: 68).
Jadi
memang harus dibedakan bahasa sehari-hari dengan bahasa ideal untuk mewacanakan
filsafat. Mari kita bandingkan contoh popular dalam wacana tata bahasa
transformasi berikut ini. (1) John is
easy to please dan (2) John is eager
to please. Kedua kalimat ini memiliki struktur gramatikal yang sama, tetapi
memiliki struktur logika yang berbda. Dengan kata lain, struktur gramatikal
belum tentu menentukan struktur logis. Kalimat (1) berarti mudah bagi seseorang
untuk menyenangkan John, sedangkan kalimat (2) berarti bahwa John ingin
menyenangkan orang lain. Demikian pula dengan dua kalimat ini. (3) Lions are yellow dan (4) Lions are real. Dalam kalimat (3) dan
(4) Lions adalah (S)ubjek sedangkan yellow dan real sama-sama (P)redikat. Secara gramatikal strukturnya sama, tapi
secara logis tidak sama. Ini semua berbeda dengan dua kalimat berikut ini. (5)
Sokrates adalah filsuf dan (6) Aristoteles adalah filsof. Keduanya memiliki
struktur gramatika dan logika yang sama. Keduanya adalah filsof. Itu adalah
fakta. Russell menjelaskan bahwa “Semua unsur yang termasuk ke dalam suatu
himpunan tidak dengan sendirinya merupakan sutu himpunan itu sendiri.”
Berdasarkan proposisi (5) dan (6) di atas, tidaklah benar disimpulkan bahwa
“Filsuf adalah anggota dari filsuf.” Kelas filsuf tingkatannya lebih lebih
tinggi dari filsuf itu sendiri (Sokrates dan Aristoteles). Dengan begitu, kita
dapat melihat kontradiksi dalam kalimat-kalimat berikut ini: (7) Semua
peraturan mengandung pengecualian, (pernyataan ini pun sebuah peraturan), oleh
karena itu mengandung pengecualian dan (8) Setiap pernyataan ilmiah yang tidak
didasarkan pada verifikasi itu hanyalah omong kosong (ini pun suatu pernyataan
ilmiah), jadi termasuk omong kosong karena tidak didasarkan pada verifikasi apa
pun (Kaelan 1998: 98).
·
Hakikat realitas dunia
seyogianya dianalisis melalui analisis logis. Agar ilmiah, filsafat mesti
mengandalkan analisis logis. Analisis logis berdasarkan pada kebenaran apriori
yang sifatnya universal dan bersumber pada rasio. Kebalikan analisis logis
adalah sintesis logis, yaknimerupakan metode untuk mendapatkan kebenaran
pengetahuan empiris atau pengalaman indrawi yang bersifat aposteriori. Ilmu
pengetahuan terdiri atas pernyataan-pernyataan yang merujuk pada realitas
dunia. Dengan kata lain, realitas dunia terungkap lewat bahasa sehingga antara
bahasa dan realitas dunia terdapat kesesuaian bentuk atau isomorfisme.
·
Dunia ini terdiri atas
fakta-fakta yang terlukiskan lewat proposisi-proposisi. Proposisi-proposisi ini
merupkan simbol dan bukan merupakan dunia. Ingat bahwa bahasa adalah simbol.
Proposisi yang paling sederhana disebut proposisiatomis yang merupakan bahan
untuk membangun proposisi majemuk seperti dengan menggunakan kata sambung atau, dan, dan sebaginya. Kalimat
“Sokrates adalah seorang warga Athena yang bijaksana” adalah sebuah proposisi
majemuk yang terdiri atas dua proposisi atomis, yaitu: (1) Sokrates adalah
warga Athena, dan (2) Sokrates adalah seorang yang bijaksana. Keduanya ini
digabungkan dengan kata yang. Selain
fakta atomis ada juga dikenal fakta umum, yaitu yang kebenarannya sudah dikenal
secara umum seperti proposisi “Semua orang akan mati.”