Sabtu, 03 Desember 2016

Meraba Pemikiran Filsafat


Bahasa biasa secara akademik dikaji oleh linguistik,filologi, dan antropologi dengan fokus perhatian masing-masing yang berbeda. Tugas filsafat bahasa adalah antara lain menjelaskan hakikat “mengetahui” bahasa dan menjelaskan berbagai metode dan konsep demi suksesnya penguasaan bahasa. Mengapa ada filsafat bahas , bukankah sudah ada linguistik yang mempelajari bahasa secara ilmiah? Dua cabang linguisti, yaitu fonologi sudah jelas mempelajarari bunyi, sintaksis mempelajari struktur gramatika bahasa dan kajiannya relatif mantap.
Chomsly dengan tegas membedakan sintaksis dan semantik. Dia mengajukan tesis autonomous syntax bahwasanya sintaksis mesti dipelajari secara terpisah dari semantik. Sementara itu, dalam semantik (ilmu makna) banyak ditemukan persoalan yang sulit dipecahkan. Di sinilah filsafat mesti tampil membantu linguistik yang mati langkah. Filsafat bahasa hampir mutlak berurusan dengan makna sedikit dengan pola kalimat, dan tidak mengutak-atik bunyi bahasa. Pentingnya mempelajari (filsafat) bahasa karena bahasa memang memiliki keterbatasan. Seorang filsafat pasti memiliki pemikiran jauh lebih luas dari apa yang bisa dikatakannya lewat bahasa. Seringkali tidak mudah bagi kita untuk meraba artinya. Memang berfilsafat adalah berpikir radikal, yakni sampai ke akar-akarnya. Sebagai suatu tulisan, filsafat bersifat tekstual. Satuan maknanya bukan makna maupun kalimat, tetapi kumpulan semuanya sebagai teks yang maknanya ditentukan oleh keterkaitannya dengan teks-teks lainnya. Filsafat puntampil selalu ambisius untuk memayungi persoalan seluas mungkin. Agar tampil singkat tapi menjangkau banyak hal,mka diperlukan metafora.
            Beberapa ungkapan dari para filsuf terkenal:
·         Jean-Paul Sartre (1905-1980)
Eksistensialisme itu tidaklah sedemikian atheistik sehingga mengarahkan segala-galanya untuk menunjukkan bahwa Tuhan tidak ada. Namun eksistensialisme menyatakan bahwa, meskipun Tuhan ada, tidak akan ada yang berubah karenanya.
·         Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855)
Aku merasakan kesepianmaut tumbuh di sekitar diriku bilamana aku menyaksikan ayhku, seorang yang tak berbahagia dan akan hidup lebih lama dari kami semua, ibarat salib di atas nisan segala harapannya.  Niscaya suatu kesalahan telah menjadi tanggungan seluruh keluarga, hukuman Tuhan pasti telah menjadi tanggungan seluruh keluarga, hukuman Tuhan pasti telah dijatuhkan kepadanya; rupanya keluarga kami harus musnah, dihapus dari muka bumi oleh tangan Tuhan yang perksa.
·         Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900)
Peradaban yang tinggi adalah ibarat piramida: ia hanya bisa bertahan atas suatu landasan yang luas; prasyaratnya ialah hal-hal tanggung yang dikonsolidasikan secara tangguh dan ampuh.
·         Nicholas Alexandrovitch Berdyaev (18874-1948)
Di satu pihak manusia adalah spiritual, sedangkan di lain pihak ia adalah alamiah, maka dari itu sekaligus bersifat spiritual dan alamiah.
·         Karl Jaspers (1910-1969)

Apa yang esensial dalam keputusan kongkret yang menyangkut nasib pribadi tetap akan tersembunyi.
 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang