Bahasa biasa secara akademik
dikaji oleh linguistik,filologi, dan antropologi dengan fokus perhatian
masing-masing yang berbeda. Tugas filsafat bahasa adalah antara lain
menjelaskan hakikat “mengetahui” bahasa dan menjelaskan berbagai metode dan
konsep demi suksesnya penguasaan bahasa. Mengapa ada filsafat bahas , bukankah
sudah ada linguistik yang mempelajari bahasa secara ilmiah? Dua cabang
linguisti, yaitu fonologi sudah jelas mempelajarari bunyi, sintaksis
mempelajari struktur gramatika bahasa dan kajiannya relatif mantap.
Chomsly
dengan tegas membedakan sintaksis dan semantik. Dia mengajukan tesis autonomous syntax bahwasanya sintaksis
mesti dipelajari secara terpisah dari semantik. Sementara itu, dalam semantik
(ilmu makna) banyak ditemukan persoalan yang sulit dipecahkan. Di sinilah
filsafat mesti tampil membantu linguistik yang mati langkah. Filsafat bahasa
hampir mutlak berurusan dengan makna sedikit dengan pola kalimat, dan tidak
mengutak-atik bunyi bahasa. Pentingnya mempelajari (filsafat) bahasa karena
bahasa memang memiliki keterbatasan. Seorang filsafat pasti memiliki pemikiran
jauh lebih luas dari apa yang bisa dikatakannya lewat bahasa. Seringkali tidak
mudah bagi kita untuk meraba artinya. Memang berfilsafat adalah berpikir
radikal, yakni sampai ke akar-akarnya. Sebagai suatu tulisan, filsafat bersifat
tekstual. Satuan maknanya bukan makna maupun kalimat, tetapi kumpulan semuanya
sebagai teks yang maknanya ditentukan oleh keterkaitannya dengan teks-teks
lainnya. Filsafat puntampil selalu ambisius untuk memayungi persoalan seluas
mungkin. Agar tampil singkat tapi menjangkau banyak hal,mka diperlukan
metafora.
Beberapa
ungkapan dari para filsuf terkenal:
·
Jean-Paul Sartre (1905-1980)
Eksistensialisme itu
tidaklah sedemikian atheistik sehingga mengarahkan segala-galanya untuk
menunjukkan bahwa Tuhan tidak ada. Namun eksistensialisme menyatakan bahwa,
meskipun Tuhan ada, tidak akan ada yang berubah karenanya.
·
Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855)
Aku merasakan
kesepianmaut tumbuh di sekitar diriku bilamana aku menyaksikan ayhku, seorang
yang tak berbahagia dan akan hidup lebih lama dari kami semua, ibarat salib di
atas nisan segala harapannya. Niscaya
suatu kesalahan telah menjadi tanggungan seluruh keluarga, hukuman Tuhan pasti
telah menjadi tanggungan seluruh keluarga, hukuman Tuhan pasti telah dijatuhkan
kepadanya; rupanya keluarga kami harus musnah, dihapus dari muka bumi oleh
tangan Tuhan yang perksa.
·
Friedrich Wilhelm
Nietzsche (1844-1900)
Peradaban yang tinggi
adalah ibarat piramida: ia hanya bisa bertahan atas suatu landasan yang luas;
prasyaratnya ialah hal-hal tanggung yang dikonsolidasikan secara tangguh dan
ampuh.
·
Nicholas Alexandrovitch
Berdyaev
(18874-1948)
Di satu pihak manusia
adalah spiritual, sedangkan di lain pihak ia adalah alamiah, maka dari itu
sekaligus bersifat spiritual dan alamiah.
·
Karl Jaspers (1910-1969)
Apa yang esensial dalam
keputusan kongkret yang menyangkut nasib pribadi tetap akan tersembunyi.