Menurut Abbas Hamami Mintaredja (1983), kata ‘kebenaran’ dapat digunakan
sebagai suatu benda yang kongkret maupun abstrak. Jika subjek hendak menuturkan
kebenaran artinya proposisi yang benar. Proposisi maksudnya makna yang
dikandung dalam suatu pernyataan atau statement.
Jika subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki
kualitas, sifat atau karakteristik,
hubungan, dan nilai. Hal yang demikian karena kebenaran tidak begitu saja
terlepas dari kualitas, sifat hubungan, dan nilai itu sendiri.
Dengan adanya berbagai kategori
tersebut, tidaklah berlebihan jika pada saatnya subjek yang memiliki
pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian yang amat berbeda satu dengan
yang lainnya, dan di situ terlihat sifat-sifat kebenarannya.
Berbagai kebenaran dalam Tim Dosen
Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM Yogyakarta (1996) dibedakan menjadi tiga hal,
yakni sebagai berikut.
1.
Kebenaran yang berkaitan dengan
kualitas pengetahuan. Setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang
mengetahui suatu objek dari jenis pengetahuan yang dibangun. Pengetahuan itu
berupa:
a.
Pengetahuan biasa atau biasa disebut
knowledge of the man in thestreet
atau ordinary knowledge atau common sense knowledge. Pengetahuan
seperti ini memiliki inti kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya amat
terkait pada subjek yang mengenal. Dengan demikian pengetahuan tahap pertama
ini memiliki sifat selalu benar, sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan
bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.
b.
Pengetahuan ilmiah, yaitu
pengetahuan yang telah menetapkan objek yang khas atau spesifik dengan
menerapkan metodologi yang khas pula, artinya metodologi yang telah mendapatkan
kesepakatan diantara ahli yang sejenis. Kebenaran yang terkandung dalam
pengetahuan ilmaiah bersifat relatif, maksudnya kandungan kebenaran dari jenis
pengetahuan ilmiah selau mendapatkan revisi yaitu selau diperkaya oleh hasil
penemuan yang paling mutakhir. Dengan demikian kebenaran dalam pengetahuan
ilmiah selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian yang paling
akhir, dan mendapatkan persetujuan para ilmuan sejenis.
c.
Pengetahuan filsafat, yaitu
pengetahuan yang pendekatanya melalui metodologi pemikiran filsafati, yang
sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan
model pemikiran yang analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenaran
yang terkandung dalam pengetahuan filsafati adalah absolut-intersubjektif,
maksudnya nilai kebenaran yang terkandung jenis pengetahuan filsafat yang
selalu melekat pada pandangan seseorang pemikiran filsafat itu serta selalu mendapat pembenaran dari
filsuf kemudian menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula. Jika pendapat
filsafat itu ditinjau dari sisi lain, artinya dengan pendekatan filsafat yang
lain sudah dapat dipastikan hasilnya akan berbeda atau bahkan bertentangan atau
menghilangkan sama sekali.
d.
Kebenaran pengetahuan yang
terkandung dalam pengetahuan agama, memiliki sifat dogmatis artinya pernyataan
dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan yang telah tertentu sehingga
pernyataan dalam kitab suci agama memiliki kebenaran sesuai dengan keyakinan
yang digunakan untuk memahaminya. Implikasi makna dari kandungan kitab suci itu
dapat berkembang secara dinamis sesuai dengan perkembangan waktu, tetapi
kandungan dari ayat kitab suci itu tidak dapat diubah dan sifatnya absolut.
2.
Kebenaran dikaitkan dengan sifat
atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang
maebangun pengetahuannya. Apakah ia
membangunnya dengan pengindraan atau sense experience, atau dengan akal pikir
atau rasio, intuisi, atau keyakinan. Implikasi
dari pengguan alat untuk memperoleh pengetahuan melalui alat indra tertentu
akan mengakibatkan karakteristik kebenaran yang dikandung oleh pengetahuan akan
memiliki cara tertentu untuk membuktikannya, artinya jika seseorang
membangunnya melalui indra atau sense
experience, pada saat ia membuktikan kebenaran pengetahuan harus melalui
indra pula, begitu juga dengan cara yang lain. Seseorang tidak dapat membuktikan
kandungan kebenaran yang dibangun oleh cara intuitif, dibuktikannya dengan cara
lain cara indrawi misalnya.
3.
Kebenaran yang dikatakan atas
ketergantungan terjadinya pengetahuan artinya bagaimana relasi atau hubungan
antara subjek dan objek, manakah yang dominan untuk membangun pengetahuan, subjek
atau objekkah. Jika subjek yang berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung
nilai kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya nilai kebenaran dari
pengetahuan yang dikandungnya amat tergantung pada subjek yang memiliki
pengetahuan itu. Atau jika objek amat berperan maka sifatnya objekif, seperti
pengetahuan tentang alam atau ilmu-ilmu alam.