Sabtu, 03 Desember 2016

Sifat Kebenaran


         Menurut Abbas Hamami Mintaredja (1983), kata ‘kebenaran’ dapat digunakan sebagai suatu benda yang kongkret maupun abstrak. Jika subjek hendak menuturkan kebenaran artinya proposisi yang benar. Proposisi maksudnya makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement. Jika subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas,  sifat atau karakteristik, hubungan, dan nilai. Hal yang demikian karena kebenaran tidak begitu saja terlepas dari kualitas, sifat hubungan, dan nilai itu sendiri.
Dengan adanya berbagai kategori tersebut, tidaklah berlebihan jika pada saatnya subjek yang memiliki pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian yang amat berbeda satu dengan yang lainnya, dan di situ terlihat sifat-sifat kebenarannya.

Berbagai kebenaran dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM Yogyakarta (1996) dibedakan menjadi tiga hal, yakni sebagai berikut.
1.             Kebenaran yang berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui suatu objek dari jenis pengetahuan yang dibangun. Pengetahuan itu berupa:
a.       Pengetahuan biasa atau biasa disebut knowledge of the man in thestreet atau ordinary knowledge atau common sense knowledge. Pengetahuan seperti ini memiliki inti kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya amat terkait pada subjek yang mengenal. Dengan demikian pengetahuan tahap pertama ini memiliki sifat selalu benar, sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.
b.      Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah menetapkan objek yang khas atau spesifik dengan menerapkan metodologi yang khas pula, artinya metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan diantara ahli yang sejenis. Kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan ilmaiah bersifat relatif, maksudnya kandungan kebenaran dari jenis pengetahuan ilmiah selau mendapatkan revisi yaitu selau diperkaya oleh hasil penemuan yang paling mutakhir. Dengan demikian kebenaran dalam pengetahuan ilmiah selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian yang paling akhir, dan mendapatkan persetujuan para ilmuan sejenis.
c.       Pengetahuan filsafat, yaitu pengetahuan yang pendekatanya melalui metodologi pemikiran filsafati, yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan  model pemikiran yang analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan filsafati adalah absolut-intersubjektif, maksudnya nilai kebenaran yang terkandung jenis pengetahuan filsafat yang selalu melekat pada pandangan seseorang pemikiran filsafat  itu serta selalu mendapat pembenaran dari filsuf kemudian menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula. Jika pendapat filsafat itu ditinjau dari sisi lain, artinya dengan pendekatan filsafat yang lain sudah dapat dipastikan hasilnya akan berbeda atau bahkan bertentangan atau menghilangkan sama sekali.
d.      Kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama, memiliki sifat dogmatis artinya pernyataan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan yang telah tertentu sehingga pernyataan dalam kitab suci agama memiliki kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk memahaminya. Implikasi makna dari kandungan kitab suci itu dapat berkembang secara dinamis sesuai dengan perkembangan waktu, tetapi kandungan dari ayat kitab suci itu tidak dapat diubah dan sifatnya absolut.

2.             Kebenaran dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang maebangun pengetahuannya. Apakah  ia membangunnya dengan pengindraan atau  sense experience, atau dengan akal pikir atau rasio, intuisi, atau keyakinan. Implikasi dari pengguan alat untuk memperoleh pengetahuan melalui alat indra tertentu akan mengakibatkan karakteristik kebenaran yang dikandung oleh pengetahuan akan memiliki cara tertentu untuk membuktikannya, artinya jika seseorang membangunnya melalui indra atau sense experience, pada saat ia membuktikan kebenaran pengetahuan harus melalui indra pula, begitu juga dengan cara yang lain. Seseorang tidak dapat membuktikan kandungan kebenaran yang dibangun oleh cara intuitif, dibuktikannya dengan cara lain cara indrawi misalnya.


3.             Kebenaran yang dikatakan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan artinya bagaimana relasi atau hubungan antara subjek dan objek, manakah yang dominan untuk membangun pengetahuan, subjek atau objekkah. Jika subjek yang berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya nilai kebenaran dari pengetahuan yang dikandungnya amat tergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu. Atau jika objek amat berperan maka sifatnya objekif, seperti pengetahuan tentang alam atau ilmu-ilmu alam.
 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang