Sabtu, 03 Desember 2016

Positivisme Logis


Semua pemikiran filsafat saling mempengaruhi, sehingga suatu teori dapat ditelusuri kepada para pendahulunya. Wittgenstein misalnya lebih dulu mengatakan bahwa proposisi yang menggambarkan suatu realitas dunia yang memiliki struktur logis. Struktur logis dunia terlukiskan dalam struktur logis bahasa. Menurutnya, metafisika melampaui batas-batas bahasa. Pengaruh Wittgenstein tampak pada kelompok Wina atau Vienna ircle (1922) yang sering disebut aliran neopositivism atau positivisme logis. Positivisme logis menggunakan teknik analisis untuk mencapai dua tujuan,yaitu: (1) menghilangkan atau menolak metafisika, dan (2) demi penjelasan bahasa ilmiah dan bukan untuk menganalisis pernyataan-pernyataan fakta ilmiah. Dengan analisis filsafati kita tidak dapat menyatakan sesuatu itu real, paling-paling menyatakan apa artinya apabila kita menyatakan bahwa sesuatu itu real. Empirisme sangat mengandalkan pengalaman pengalaman empiris (maka dari itu sering disebut empirisme logis). Bagaimana mungkin ia dapat menjelaskan alam metafisik yang belum teralami, misalnya kematian? Jadi penolakan terhadap metafisika itu tidak boleh dimaknai menolak keberadaan dunia luar atau transenden seperti kematian itu. Dengan kata lain, bagi kelompok ini pernyataan metafisika tidak menyatakan sesuatu sama sekali alias omong kosong.

            Tokoh utama positivisme logis adalah Alfred Jules Ayer dengan keryanya yang terkenal Languange, truth and Logic (1939). Ia melanjutkan tradisi empiris Inggris terutama Humes dan analisis Iogis dari Russell. Aliran ini lebih menaruh perhatian pada upaya menentukan bermakna atau tidak bermaknanya suatu pernyataan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan, bukan pada pernyataan apakah benar atau salah. Tugas filsafat adalah melakukan analisis logis terhadap pengetahuan ilmiah. Untuk maksud itu, mereka mengembangkan prinsip yang disebut verifikasi atau kriteria kebermaknaan. Kutipan berikut menunjukkan gagasan Ayer Ihwal hubungan antara proposisi sebagai simbol dengan realitas yang disimbolkannya yang perlu ditempuh lewat prinsip verifikasi itu.
            Ayer membedakan dua jenis verifikasi, yakni verifikasi keras dan verifikasi lunak seperti tampak dalam kutipan di bawah ini.

            Akan anda lihat bahwa aku membedakan antara arti yang “keras” dan arti yang “lunak” dari kata “verifiable” dan aku menjelaskan perbedaan tersebut sebagi berikut. Suatu proposisi dapat dikatakan “verifiable” dalam arti kata yang keras, hanya jika kebenarannya dapat dibuktikan dalam pengalaman secara meyakinkan. Suatu proposisi “verifiable” dalam arti lunak adalah proposisi yang pengalaman hanya dapat menjadikannya “sangat mungkin (probable)” (Titus dkk. 1984: 374).
 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang