Semua pemikiran filsafat saling
mempengaruhi, sehingga suatu teori dapat ditelusuri kepada para pendahulunya. Wittgenstein
misalnya lebih dulu mengatakan bahwa proposisi yang menggambarkan suatu
realitas dunia yang memiliki struktur logis. Struktur logis dunia terlukiskan
dalam struktur logis bahasa. Menurutnya, metafisika melampaui batas-batas bahasa.
Pengaruh Wittgenstein tampak pada kelompok Wina atau Vienna ircle (1922) yang
sering disebut aliran neopositivism atau positivisme logis. Positivisme logis
menggunakan teknik analisis untuk mencapai dua tujuan,yaitu: (1) menghilangkan
atau menolak metafisika, dan (2) demi penjelasan bahasa ilmiah dan bukan untuk
menganalisis pernyataan-pernyataan fakta ilmiah. Dengan analisis filsafati kita
tidak dapat menyatakan sesuatu itu real, paling-paling menyatakan apa artinya
apabila kita menyatakan bahwa sesuatu itu real. Empirisme sangat mengandalkan
pengalaman pengalaman empiris (maka dari itu sering disebut empirisme logis).
Bagaimana mungkin ia dapat menjelaskan alam metafisik yang belum teralami,
misalnya kematian? Jadi penolakan terhadap metafisika itu tidak boleh dimaknai
menolak keberadaan dunia luar atau transenden seperti kematian itu. Dengan kata
lain, bagi kelompok ini pernyataan metafisika tidak menyatakan sesuatu sama
sekali alias omong kosong.
Tokoh
utama positivisme logis adalah Alfred Jules Ayer dengan keryanya yang terkenal Languange, truth and Logic (1939). Ia
melanjutkan tradisi empiris Inggris terutama Humes dan analisis Iogis dari
Russell. Aliran ini lebih menaruh perhatian pada upaya menentukan bermakna atau
tidak bermaknanya suatu pernyataan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan, bukan
pada pernyataan apakah benar atau salah. Tugas filsafat adalah melakukan
analisis logis terhadap pengetahuan ilmiah. Untuk maksud itu, mereka
mengembangkan prinsip yang disebut verifikasi atau kriteria kebermaknaan.
Kutipan berikut menunjukkan gagasan Ayer Ihwal hubungan antara proposisi
sebagai simbol dengan realitas yang disimbolkannya yang perlu ditempuh lewat
prinsip verifikasi itu.
Ayer
membedakan dua jenis verifikasi, yakni verifikasi keras dan verifikasi lunak
seperti tampak dalam kutipan di bawah ini.
Akan
anda lihat bahwa aku membedakan antara arti yang “keras” dan arti yang “lunak”
dari kata “verifiable” dan aku
menjelaskan perbedaan tersebut sebagi berikut. Suatu proposisi dapat dikatakan
“verifiable” dalam arti kata yang
keras, hanya jika kebenarannya dapat dibuktikan dalam pengalaman secara
meyakinkan. Suatu proposisi “verifiable”
dalam arti lunak adalah proposisi yang pengalaman hanya dapat menjadikannya
“sangat mungkin (probable)” (Titus
dkk. 1984: 374).