Sabtu, 03 Desember 2016

Para Ahli Lama Matematika



Pengetahuan murni, termasuk matematika, diklaim untuk memulai masyarakat yang memisahkan pekerjaan tangan dengan otak (Restivo, 1985). Pada masyarakat seperti Yunani kuno, pekerjaan intelektual dipisahkan dari pekerjaan manual, menjadi wewenang kelas social yang lebih bertenaga, kaum elit, berteman dekat dengan para penguasa masyarakat.
Selama ribuan tahun, penelitian tentang matematika murni telah berteman dengan budaya tinggi dan pendidikan budaya kaum elit. Sekolah Menegah Plato memasang tanda pada seluruh pintu yang melarang masuk siapapun yang belum mempelajari geometri. Roman Boethius meyakinkan bahwa tempat tersebut memberikan pelajaran matematika dalam sebuah pendidikan budaya. Dia menggabungkan kuadrivium dalam matematika seperti aritmetika, geometri, musik, dan astronomi dengan hal-hal sepele dalam inti kurikulum budaya. Di luar kurikulum di hari-harinya (tahun 480-524), Boethius mempengaruhi pendidikan di Inggris selama seribu tahun setelahnya, melalui bukunya (Howson, 1982).

Meskipun keberuntungannya berubah-ubah, matematika murni merupakan bagian pusat kurikulum sekolah umum selama masa Victorian, yang sebagian besar diwakili oleh unsur-unsur Euclid. Hal ini dinilai untuk sumbangsihnya pada perkembangan pemikiran, sebagaimana laporan perwira kerajaan pada 1861:
Matematika kurang lebih telah menciptakan sebuah gelar kehormatan sebagai sebuah instrument kedisiplinan mental; mereka dihargai dan dihormati di perguruan tinggi.
(Menteri Pendidikan, 1958, halaman 2-3)
Pendidikan geometri dikritik oleh perwira Taunton pada 1868, namun tidak ada ancaman bagi kemurnian silabus di abad ke-19 (Howson, 1982). Tentunya, hanya pada abad ke-20 di mana unsur penerapan matematika mulai dimasukkan dalam kurikulum sekolah selektif, mendorong ke arah mata pelajaran matematika level ‘A’ pada tahun 1950-an (Cooper, 1985).
Fakta bahwa tekanan pelatih industri dan pragmatis teknologi untuk penerapan ilmu pengetahuan ditentang untuk beberapa waktu yang cukup lama merupakan sebuah indikasi adanya kekuatan ruang masuk para ahli lama, ahli matematika utamanya. Mayoritas sarjana matematika, tentunya pada setengah abad ini, menjunjung kemurnian matematika dan mengabaikan manfaat atau penerapan matematika. Sehingga tidak ada filosofi tradisional matematika, seperti yang kita lihat pada Bab 1. Matematika dikenal dengan matematika murni, dan penggunaannya tidak dipertimbangkan sebagai perhatian dari ahli ilmu pasti ‘nyata’ lainnya, atau dari filosofi matematika. Dalam pembahasan sifat dasar matematika, baik Frege, Russell, Hilbert, Bernays, Brouwer, maupun Heyting tidak memilih apapun selain pengetahuan matematika murni.


 

WELCOME TO IZOMAWL'S Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang